Surat #676 My Never-Comeback Ship

(Disclaimer: Disunting sedikit untuk memerbaiki tata bahasa dan ejaan. Selamat membaca.)

Teruntuk: My Never-Comeback Ship

Kamu pernah bilang ingin hidup selamanya, itulah kenapa aku terus menulis. Mungkin aku tak akan selalu ada untuk tau kamu telah melalui berbagai perjalanan panjang. Tapi setidaknya kamu akan hidup, dalam tiap baris tulisanku, untukku, sebagai seseorang yang aku cintai. Continue reading

Tips #4 Quarter Life Crisis

Disclaimer: Disunting untuk memerbaiki tata bahasa dan ejaan.  Selamat membaca.

Oleh: Sampah Semesta.

Hi! It’s me! Sampah Semesta dari Saya App, lol. Kali ini gue akan mencoba menuliskan opini- opini random gue melalui blog sayaApp. Semoga bisa kalian baca dan nikmati ya! /*walau gue gatau manfaat nulis ini apaan, lmao.

“Duh tujuan hidup gue apa ya?”
“Kok teman-teman gue sudah mencapai sesuatu yang mereka inginkan, sementara gue gini-gini aja?”
“Keputusan yang gue ambil ini tepat enggak ya? Gimana kalau gue keliru?”

Pertanyaan di atas sering menghantui kalian yang berusia 20-an? Atau bahkan pertanyaan kalian lebih banyak dari yang gue sebutin? Jangan khawatir, you are not alone! Gue juga ngerasain!! (oke ini ga penting kalian tahu atau engga tentang yang gue rasain). Lalu kalian bingung apa yang harus kalian lakukan, apa yang sebenarnya kalian inginkan, dan sebagainya. Kebanyakan orang berusia 20-an akan mengalami fase ini. Brengsek emang, rasa sesaknya mengalahkan rasa sedih saat patah hati.

Ini adalahhh *drums rolls* WELCOME TO THE QUARTER LIFE CRISIS, BIATCHHHH! Sebelumnya akan gue jelaskan secara singkat apa itu Quarter Life Crisis. Menurut kutipan yang diambil dari themuse.com, Quarter Life Crisis merupakan suatu periode yang umum di alami oleh individu berusia 20 sampai 30-an. Individu tersebut akan mengalami keraguan terhadap hidup mereka, stress, kosong dan bingung.

Highly driven and smart, but struggling because they feel they’re not achieving their potential or feeling they’re falling behind,” kata Nathan Gehlert, Ph.D.,  psikolog dari Washington D.C. “Terus, gue harus gimana?” Tenang, jangan panik. Berikut beberapa hal yang dapat kalian lakukan untuk melewati fase Quarter Life Crisis. 

  1.  Stay calm. 
    Gue tahu kalian panik,gue pun sangat panik. Namun berusahalah tenang. Kita tidak bisa menentukan sikap dan pilihan apabila kita panik. Dinginkan kepala, ketika kepala lo dingin lo akan dapat mengambil keputusan dengan bijak yang sesuai dan terbaik untuk diri lo.
  2. Tetaplah berusaha mencapai tujuan.
    Semua bingung dan takut, tetapi bukan menjadi pengecualian untuk tetap berusaha meraih apa yang lo mau. Lo ga punya tujuan? Cari tujuan lo! Cari hobi atau hal apa pun itu yang bisa membuat lo nyaman dan layak untuk diperjuangkan bagi lo. Masih merasa kurang? Temui orang-orang baru. Dari situ lo akan menemui banyak hal menarik yang bisa saja menjadi tujuan baru lo.
  3. Embrace yourself and stop comparing. 
    Okay, bagian ini susah. Gue adalah Sampah Semesta, apa yang bisa kalian ekspetasikan? Tapi, Sampah ini berusaha menerima fakta yang ada pada dirinya, memeluk seluruh diri termasuk value yang terkandung dalam tubuhnya. Because, we should love and embrace ourself first before anyone else. Hidup bukan balapan. Lo tidak perlu membandingkan diri lo terus-terusan dengan orang lain yang lo lihat terlebih dulu mencapai finish. Sesekali memang harus melihat orang lain untuk meningkatkan kualitas diri. Tapi kalau terlalu sering? Stop it, dear. That will hurt you even more.
  4. Ask for help if you need it.
    Bagi gue, manusia adalah makhluk yang luar biasa unik dan ajaib. Di satu sisi mereka individu yang berdiri sendiri, di sisi lain mereka adalah makhluk sosial yang butuh bantuan manusia lain. Aneh? Ya memang. Jika disuruh memilih, aku ingin terlahir jadi amoeba lucu saja, sayangnya lahir jadi manusia sih. Jadi kuterima saja. Lo merasa ga yakin bisa lewatin Quarter Life Crisis sendirian? Cari bantuan. Ceritakan kegelisahan lo kepada orang yang lo percaya, temui orang-orang baru dan ajak mereka berbincang ringan atau bahkan berdiskusi untuk memperoleh pencerahan. Lo ga sendirian, jangan khawatir. Semua orang melalui badai mereka sendiri-sendiri, dan mereka pun ga bisa bertahan sendirian.

Jadi, jangan takut. Yakinlah kalian akan sukses melalui Quarter Life Crisis. Hidup memang penuh ketidakpastian. Tapi bukankah itu yang membuatnya menarik? Karena kalian tidak akan tahu hal apa yang akan terjadi setelah nanti. Baik atau buruk, senang atau sedih, hitam atau putih, dll. Who knows? Jalani dulu saja. Good Luck! May the universe bless you, xoxo.

See ya!

Sampah Semesta adalah millenial pengguna SayaApp yang hobi shitposting dan sadposting serta berbincang ringan untuk mengatasi penat dan insekuritasnya yang bener-bener bikin mampus. Hit me up for further trashy trash talkin!

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang juga ingin berbagi tulisan (boleh berupa surat, opini, cerpen, kegelisahan, puisi, informasi event, tugas survey dsb), kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Undangan Berbagi Tulisan di Sayaappgossip.id kepada Para User SayaApp

Cerbung: Gelembung Kuning #3

(Part 2 bisa dibaca di sini)

Oleh: Myllena.

21 Januari 2016.
Gue mau pergi sama dia. Paginya, kelinci gue mati. Nyokap gue minta tolong siapa yang bisa nguburin, tapi gue gak bisa. Akhirnya, gue chat dia. “Kamu bisa dateng pagian gak? Sekarang deh, kelinci aku mati ini satu harus dikubur ntar keburu disemutin”

Dan dia langsung dateng. Dia udah rapih buat pergi sama gue, malah mainan pacul di teras belakang nguburin kelinci. Gue bagian ngipasin karena dia keringetan banget. Sedih ya baru jadian, udah langsung disuruh nguburin kelinci. Setelah nguburin kelinci, gue duduk-duduk dulu searching film apa yang bagus hari itu. Karena belum ada film bagus, dia ngajak gue ketemu keponakannya.  Hari itu, bawa mobil gue, kita full-time pacaran bertiga sama keponakannya. Continue reading

Cerbung: My Mysterious Lady #2: Nigher (Versi Bahasa Inggris)

(Link cerita sebelumnya: klik di sini)
By: Piscius

Disclaimer: Cerita hanya disunting sedikit, untuk mengoreksi gramatika dan tata bahasa. 
=============
PART II: NIGHER
=============
Four walls and a door of concrete. A warmness of hugs. Waves of laughter that fills the silence in a place that we called home. What if you no longer felt it that way? Are you daring enough to say that you still have the thing you called home?

She’s surely uncertain if she really meant it when she said, “I’m home”

Broken. Torn. Burnt. Bent. Whatever you called it. That’s the way she would describe those things. And yet she never pulled anyone on the pit she’s in just because she didn’t think anyone deserves to be pulled in.

Moments go by days by days without a single scratch on her in my life. True if what I meant was the thing that your eyes could see. False if what I meant was also the dark clouds in my head that we used to call it as a “thoughts” Continue reading