Surat #90 Altair (2)

Teruntuk: Altair

Dear, You. Do you remember our first day? The first time that we met? It was so dark. I couldn’t see any light around me. But then, you came. Thank God, it was him. Never been this happy until you came to my life. Well, aku sangat bersyukur atas ini. Dan aku masih ingat sekali, usaha kamu menembus dinding pertahanan yang sudah aku buat. Hell-yeah, you can read me like a magazine, lol. Aku ga tau gimana caranya, tapi kamu bisa perlahan membaca atau bahkan paham aku. Aku sering kali jenuh untuk sekedar membalas text-text dari kamu (you already knew that lol), but i don’t know why, why we end up like this? But, thanks God, karena pada akhirnya, aku jatuhkan pilihanku sama kamu. Sudah, ya, aku ga pandai nulis banyak-banyak. Untuk sisanya, kamu bisa interogasi aku lewat telephone atau video call kita nanti, Ok Baby? Continue reading

Surat #89 Pandacorn (2)

Teruntuk: Pandacorn yang Bales chat Gue dan Mandi Sehari Sekali.

Panda, kapan move on? Gue nunggu di sini, nunggu lo bisa buka hati lagi dari gue jomblo sampe jomblo lagi lo masih aja. Coba kurangin sifat cuek lo terus sadar, deh, kalo ada gue di sini nunggu lo bangun. Sering-sering bales chat gue, jangan dianggurin mulu! Keriputan gue nunggu lo bales. Dan inget, ya, Pan, lo bisa anggep gue rumah lo tapi rumah bakal kehilangan fungsinya kalo penghuninya aja jarang pulang. Continue reading

Surat #85 Anon

Teruntuk: Anon

Hallo, Anon yang, Katanya, Rumahnya di Kawasan Perumahan Elit, yang Mulutnya Setajam Pohon Kaktus, yang Sering Ngatain Muka Gue Tablo, dan yang Kerjaannya Jalan-Jalan tapi Gak Pernah Ngajak Gue ?

Oh, iya gue nulis ginian biar kayak orang-orang heeee. Ga deng bohong. Gue mau bilang banyak terimakasih buat lo. Pertama, terimakasih sudah mejadi teman jahat sekaligus musuh gue. Kedua, terimakasih berkat kata-kata lo yang tajam itu, bisa membuat gue menjadi wanita tangguh. Ketiga, Continue reading

Surat #83 Kamu (Re: Yang Belom dapat Surat)

Teruntuk: Kamu (re: Yang Belom dapat Surat)

Jadi, sekarang kamu sudah mengerti? Jika sebenarnya, yang selama ini kamu cari bukan berpuluh harapan yang tergantung tinggi setinggi awan, melainkan seseorang yang tahu betul bagaimana cara menjaga kepercayaan. Bukan suara ramai tepuk tangan saat kamu menang, melainkan bahu-bahu yang siap menopang saat tangismu pilu akibat kekalahan. Continue reading