Surat #1308 Seorang Pria

Teruntuk: Seorang Pria

Hi, its me. Lol

I dont know why I decide to write this letter. But hopefully kamu baik-baik saja.

Aku menulis surat ini pukul 22.00, dengan segala kekacauan ku beberapa minggu ini. Iya, aku kacau entah mengapa. Kau pun juga kan? Seperti anak anjing yang terus-terusan mengejar ekornya sendiri. Apakah semua itu ada artinya? Tidak ada yang tahu. Yang aku tahu, kau risau aku pun risau. Tidak tahu bagaimana dengan mu.

Sampai detik ini aku memasih memikirkan kenapa aku bisa mengenal dan bertemu dengan mu. Sejak mengenal mu, keseharian ku diliputi rasa yang tidak pernah aku rasakan selama 22 tahun hidup di dunia. Aku tidak tahu, yang pasti tubuh ku terasa hangat dan gemetar.  Pertemuan kita? Woah, pertemuan kita membawa hidup ku bagaikan kembang api. Meledak-ledak, bercahaya, mendebarkan! Cahayanya indah dalam langit gelap, suara riuh yang memekakkan telinga. Lalu hilang, senyap.

Aku sadar aku hanya sampah semesta yang mungkin saja kehadirannya dalam hidup mu tiada arti, atau bahkan keberadaan ku tiada arti sama sekali. Dan apakah keberadaan mu dalam hidup ku berarti? Berulang kali semua orang memperingati ku . Namun aku tetap maju, dengan takut dan mata yang berair. Jika semua orang mengatai ku bodoh, bukan kah kau juga sama bodohnya? Atau jangan-jangan  interaksi kita bersifat destruktif?

Kasih ku, hidup itu seram. Dan mati itu kelam. Lalu kenapa kita masih berdebat tentang apa itu hidup dan apa itu mati? Logika mulai berhamburan, pahit memori mulai membuncah. Aku takut, kau pun. Kau dingin, aku pun. Ku sadari kita hanyalah segelintir kaum muda yang tersesat dan rusak, hilang arah. Segala sesuatu menjadi biasa saja. Berjegalah lah hati kita, lupa diri, menangis, berteriak, dan berdarah. Darah mu tidak mengucur lagi, kan? Masih kau rawat sisa luka mu itu?

Aku selalu suka teori tentang semesta. Rasa ingin tahu ku selalu mengorek-ngorek fakta di salamnya. Ya Tuhan, ternyata semesta itu rumit. Kau rumit. Jadi kau sama dengan semesta. Berwarna-warni, perpaduan warna aneh beraneka ragam  yang tak ku kenali. Menyimpan banyak misteri, tidak akan habisnya jika dieksplorasi. Melayang-layang, hampa, rapuh. Tunggu, berarti sama saja dengan ku? Ah sial aku tak mengerti! Jadi siapa yang menjadi semesta? Jika kau yang menjadi semesta, aku akan dengan senang hati hidup dalam mu.

Belakanga ini aku berpikir, ada yang aneh dari ucapan ku. Aku tidak pernah berharap menjadi tuan putri atau ratu. Aku selalu berpikir jika aku adalah ksatria yang akan bertarung segenap tenaga dan usaha, tangguh mengghadapi musuh dan rintangan, serta menyelamatkan banyak orang.  Dan kini, whoa aku seperti ksatria! Jadi kapan aku bisa membuat mu terkesan? Malang sekali ya aku jadi wanita, aku bukan dirinya. Apalah aku. Apa itu aku? Seandainya  saja aku….

Sebaiknya ku akhiri saja semua ini, atau membiarkan semuanya terjadi tanpa perduli apa pun? Jantung mu masih berdetak? Boleh aku merasakannya untuk memastikan hal tersebut? Sehingga aku paham kita akan masih tetap hidup, besok, esok hari, atau setahun lagi sampai benar-benar akan mati. Ayo hidup selamanya! Ah, jangan. Aku tahu kau tak akan berani. Kau pikir aku berani? Tidak. Sentuh saja tubuh ku, dan aku sentuh saja tubuh mu. Lenguh ku penuh rasa getir, kau akan meringis. Kita akan meledak bagai bintang bertabrakan! BOOM. Runtuh, remuk, rusak saja sekalian!

Huh, sulit. Sebaiknya aku harus bagaimana?

Tetapi kau tidak keberatan atas pelukan dan tangisan untuk terakhir kalinya kan? Lihat saja nanti.

Tertanda, aku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*