Surat #1268 Edelweis

Teruntuk: Edelweis

Dalam rintik hujan kamu meninggalkan aku di sana. Yang hancur karena kata-kata yang kamu bilang.

Siapa aku? Si topeng kecil tanpa raut wajah. Tanpa emosi. Tanpa arah dan tujuan.

Aku. Kamu dan kebimbangan yang selalu menyertai kita.

Kini semesta, kembali mengijinkanku berbincang menggunakan aksara, bukan tentang kita; tapi perihal hujan dan pejalan kaki yang takkan pernah bisa selesai untuk dibaca.

Aku lebih menyukai malam yang selalu menyuguhkan mimpi, sebab pagi hanya memberi sesal yang kerap kuingkari. Pagi menjelang siang hanya jemari yang sanggup berbincang seperti embun yang hilang disapu mentari.

Dulu, aku hanya seseorang yang tak tahu apa itu tujuan, kubiarkan semuanya berjalan sesuai detak jam. Kemudian kamu datang dengan permen lolypop di tangan dan mengajakku ke sebuah impian, mengajariku bagaimana menari di bawah rinai hujan tanpa takut kedinginan. Darimu, aku belajar memeluk ketakutan agar tahu bagaimana menikmati kehidupan.

Sore ini hujan turun rintik-rintik, basah tubuh ini karna terpercik seketika teringat saat malam itu kamu berbisik. Entah ke mana arah makna argumentasimu, layaknya mata sukmamu yang buta lagi bisu.

Dan semoga kutemukan rumah bukan hanya arah.

Sukma sedikit melemah pecah beberapa namun untuk temui cahaya, aku tak pernah menyerah.

Tertanda: Mandalawangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*