Surat #1253 Anda, Si Denial

Teruntuk: Anda, Si Denial

Saya, akan menuliskan sepatah, dua patah, tiga patah, atau mungkin beratus-ratus patah kata untuk Anda, manusia ter-narsis, yang sekarang menjadi salah satu manusia terfavorit saya. Perkenalan pun dimulai dari aplikasi SayaApp ini.

Saya, cukup yakin Anda tahu siapa pengirim surat ini. Ya, kalau tidak tahu keterlaluan, sih. Baiklah, mari kita mulai.

Saya, yang awalnya tertarik dengan kosa-kata Anda setiap kali Anda menuliskan sajak. Iya, di situ awal saya tahu adanya diri Anda.

Saya, yang melihat Anda sebagai sosok yang bebas. Saking bebasnya, bahasa yang Anda sering lanturkan pun cukup “bebas”.

Saya, yang melihat Anda sebagai makhluk yang begitu humoris, seperti tanpa beban, dan bergerak sesuai keinginan diri. Alias, tidak bisa diam.

Saya, yang akhirnya dapat berinterikasi dengan Anda, diawali dengan saling saut-menyaut dan berakhir di kolom percakapan pribadi (personal chat atau PC, bahasa gaulnya).

Saya, cukup terhibur dengan percakapan kita yang ternyata memiliki nilai kerecehan yang sama. Ah, tidak. Anda lebih receh, karena pada saat itu saya masih jaim.

Selang beberapa waktu..

Saya, memutuskan untuk menambahkan Anda menjadi teman di Line. Anda waktu itu memang mengajak saya untuk move. Kenapa mau? Karena saya cukup tertarik untuk mengenal  lebih diri Anda pada saat itu.

Saya, yang akhirnya mengenal anda dikit demi sedikit, karena bisa dibilang intensitas percakapan kita cukup sering (walau sempat saling tidak membalas, karena satu dan lain hal dari masing-masing insan).

Dari percakapan lebih mendalam, lebih tajam, lebih menukik..

Saya, akhirnya tahu kalau Anda adalah makhluk yang hanya terlihat “urakan”, “nakal”, “jorok”, tapi semua hilang saat anda menceritakan hal-hal yang saya-pun langsung berpikir “Oh, ternyata Anda seperti ini. Menarik.”

Saya, akhirnya tahu bahwa Anda adalah pemilik sifat dan sikap yang jauh dari kata “kasar”, pemilik suara yang begitu saya sukai, dan pemilik kisah yang cukup membuat saya kagum.

Saya, yang hanya menjadi diri saya sendiri, begitu pula Anda yang akhirnya menjadikan perkenalan dan obrolan kita berlanjut, hingga saat ini.

Saya, yang akhirnya senang dapat pulang dari perantauan. Di saat itu pula Anda mengajak untuk bertemu. Lalu, pertemuan pertama pun terjadi.

Dari situ..

Saya, ternyata ketagihan akan sosok Anda. Kok, bisa? Padahal bertemu dengan Anda itu sangat melelahkan, lho. Terutama dari jarak. Mantap, memang. Entahlah, mungkin saya tertarik. Tertarik untuk menahan malu karena tingkah Anda yang tidak bisa diam, tertarik untuk sekedar ngobrol dari hal ringan sampai berat, dan tertarik untuk menghabiskan waktu bersama Anda.

Dari ketagihan ini pula, ternyata saya nyaman dengan Anda. Saya senang dengan Anda.

Pertemuan demi pertemuan pun berlanjut, dan selalu memberi cerita baru. Saking barunya, sampai bingung kenapa hal tersebut bisa terjadi. Yang akhirnya menjadi bahan kita untuk bersenda gurau di kala kita jauh.

Oke, ini sudah panjang. Saya capek.

Inti dari segala ‘saya’, ‘saya’, dan ‘saya’ di atas adalah, Anda sudah mengetahui banyak hal tentang Saya sekarang. Anda dapat membuat diri ini menjadi apa adanya. Bahkan hal-hal konyol nan receh saya-pun, Anda sudah tahu, kan? Entah karena rasa nyaman, sayang, atau hal lain yang membuat saya percaya untuk menunjukkan siapa saya sebenarnya.

Saya pun berterima kasih kepada Anda, yang sudah menjadi makhluk ciptaan Tuhan paling sabar, paling manut, dan hal lain yang tidak perlu saya jabarkan, dalam menghadapi saya. Bahkan, saya perlu meminta maaf untuk apapun itu. Iya, terima kasih dan maaf.

“Love is a gift from God. Whatever the ending is, just cherish everything about it.” by tidak tahu siapa, lupa username-nya.

Saya dapat kata-kata ini dari post-an user SayaApp, yang sangat menyentuh qolbu, sehingga ingin saya sampaikan kepada Anda di surat ini.

Bahwa, apa yang kita arungi (macam arung jeram) saat ini, adalah apa yang Tuhan berikan kepada kita, untuk kita rasakan, resapi, dan nikmati. Entah ujung cerita ini ada di mana, atau kapan kita akan bertemu dengan titik pengakhir kalimat dalam cerita kita ini. Tidak ada keraguan, tidak ada penyesalan. Karena sungguh, saya menyayangi Anda.

Sekian, karena saya lapar. Terima kasih.

Tertanda: Saya, Si Perut Karet Kesayanganmu, Otiy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*