Surat #726 Peyyy

Teruntuk: Peyyy

Satu

20 Juli 2017

Namamu pertama kali kulihat, dan kali itu juga kita saling bertegur sapa. Sayangnya aku tak tau banyak tentangmu, lain denganmu yang dikemudian hari aku tau, kamu sudah tau banyak tentang aku, “Dasar user lama, selalu ada mata-matanya”.

Dua

21 Juli 2017

Hari ini namamu terketik rapih dalam bio profile ku, “Peyyy”. Tapi aku sadar, sungguh sadar, bahwa saat itu semua hanyalah sebatas bercanda saja, bahkan di hari ke 2 aku mengenalmu sebatas Peyyy, aku belum tau nama aslimu, dan siapa dirimu sebenarnya. Namun satu hal yang terpancar dari dirimu saat itu, kamu menyenangkan.

Tiga

22 Juli 2017

“Jadi, siapa nama asli kamu?”

“Farid, Sayang”

“Kamu boleh panggil aku apa aja, Intan atau Charisma, Char juga nama asli aku”

“Char aja, udah enak panggil begitu”

Yap,apa panggilan sayang saat itu ada artinya? Tidak, sebatas panggilan chat di Line saja, aku atau kamu saat itu, kami sama-sama sadar, bahwa semua ini tidaklah sungguhan. Dan banyak hal yang mematangkan pikiranmu, bahwa di antara aku atau kamu, tidak akan menjadi ‘kita’.

Empat

24 Juli 2017

Ujung senja, depan kampus tercinta, sosokmu dalam kehidupan nyata kini ada dihadapanku. Setelah berjabat tangan, dan mengobrol sebentar, sesuai dengan perjanjian awal, kita melanjutkan obrolan di pinggir kolam caffe favoritku, ditemani secangkir kopi hitam panas, dan segelas kopi hitam dingin tanpa gula, dan saat itu, aku putuskan untuk menobatkan kamu sebagai temanku yang baik, dan mengasyikkan, meski di chat kami masih memanggil satu sama lain dengan sebutan ‘sayang’. Dan kemudian mulai hari ini, harikupun selalu dipenuhi dengan kamu.

Lima

7 Agustus 2017

Alkohol pembawa bencana.

Hari ini seseorang menjahatiku, bodohnya aku pergi tanpa sepengetahuanmu. Aku pikir, toh mungkin kamu juga tidak perlu tau banyak, mengingat, aku dan kamu bukanlah siapa-siapa. Namun di tengah jalan, aku ingat. Dengan segenap kekuatan aku mencari kontakmu di handphoneku, aku ingat bagaimana bulan yang purnama saat itu terlihat samar dimataku, dan pipi yang banjir air mata juga keringat, kepala dan badanku serasa sudah terpisah, aku merengek menangis menyebut namamu..

“Halo, Pey, aku dimana?”

“Lah mana aku tau kamu di mana? Kamu bukannya di rumah?”

“Aku gak di rumah, aku di mana, Pey?” dilanjutkan dengan isak tangis yang makin kencang

Aku lupa-lupa ingat saat itu, awal aku menelpon kamu saat aku setengah sadar, yang jelas kamu marah, aku lupa hal apa saja yang kamu katakan, yang jelas, kamu marah. Namun kemudian mencarikan aku jalan keluar.

Akhirnya salah seorang user yaitu Nick Jonas, berangkat menjemputku, namun satu jam lebih Nick tidak kunjung tiba karena jarak, Demson menjemputku dan membawaku ke apartment SexYouUp (terimakasih untuk kalian yang telah menolongku saat itu). Nick yang masih berada di perjalanan, dia juga berkomunikasi denganmu saat itu, dan kamu masih kebingungan, ingin menjemputku juga, namun kamu teringat jarak Alam Sutera – Kalibata tidaklah dekat untuk di tingkat urgensi seperti ini, terlebih saat itu kamu sedang tidak memegang uang.

Saat aku hendak pulang, Nick bilang ada kamu dibawah, kamu yang akan mengantarku ke rumah, aku kaget, “Kok bisa ada Pey, dan, masa iya, Alam Sutera – Kalibata jam segini Cuma setengah jam?” pikirku. Pada saaat aku berada di lift, Nick bercerita tentang percakapannya denganmu,

“Yaudah, kalo lo sayang sama Char, lo pasti dateng lah Pey”

Dan, fhoila! Kamu sudah menungguku di lobby, seketika aku langsung memelukmu, dan sepanjang jalan aku masih tetap memelukmu, aku hanya berpikir, mungkinkah kamu menyayangiku? Sambil terus berdebar jantungku memikirkannya.

Enam

24 Agustus 2017

Hari ini perasaanku campur aduk, aku sudah menyayangimu, namun aku takut bahwa aku hanya akan terus mengecewakanmu. Hari ini, akhirnya aku mengatakan semua hal yang selama ini aku rahasiakan padamu, semuanya, dan aku tau resikonya adalah, mungkin kamu akan pergi meninggalkan aku.

“Kalo ingin bahagia, jauhin aku Pey”

“Gak Char. Paitin aku terus, uji perasaan aku buat kamu, aku ga akan jauhin atau tinggalin kamu”

Tujuh

10 September 2017

Aku namakan hari Minggu ini adalah hari perang, sekaligus kemerdekaan, terimakasih sudah menemaniku dari hari sebelumnya hingga diujung senja ini, ditemani hujan yang turut membawa rasa lelahku, aku menikmati hujan kala itu, dan senyum milikmu yang menguatkan. Namun ditengah jalan, hujan mereda, entah mengapa aku kecewa.

“Kamu sedih ya hujannya berenti?”

“Iya aku sedih”

“Kamu mau gak aku bikin seneng?”

“Iya mau”

“Kamu mau gak jadi pacar aku?”

Setelah kamu ulang pertanyaan ini berkali-kali karna aku pikir kamu bercanda, akhirnya aku berteriak sekencang mungkin, ditemani rintikan hujan yang mulai mengguyur kembali

“MAAAAUUUUU”.

Hari ini,

10 Oktober 2017

Teruntuk, kamu, vitaminku.

Terimakasih telah membaca 7 tanggal dalam Diaryku tentangmu, proses dimana dirimu menjadi begitu berharga untukku.

Cerita ini baru saja dimulai, baru 1 bulan sejak kita memutuskan untuk bersama, namun sudah banyak isi didalamnya. Harapanku, sekeras apapun yang akan kita lalui dikemudian hari, kita masih akan tetap melaluinya bersama-sama, saling menguatkan, dan percaya bahwa hukum terbetur untuk terbentuk akan tetap ada.

Dan terimakasih untuk SayaApp, sudah menjadi tempat pertama untuk kami saling tuliskan nama, berawal dari bio, bisa lanjut ke hati, hal yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, terima kasih sudah mengantarkan aku pulang, pada Farid.

Farid, aku menyayangimu.

Love,

c h a r

Charisma Intan.

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat di event #TerimaKasihSayaApp, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Undangan Menulis Surat di Event Terakhir: #TerimaKasihSayaApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*