Prosa #32 Dia dan Secangkir Kopi

Oleh: Richeese Nabati

Sedikit kuceritakan tentang dia dan secangkir kopi.

Dia sedang menikmati secangkir kopi hangat dengan kue kering coklat yang selalu setia berada disamping cangkir bergambar minion kesayangannya.

Secangkir kopi dan kue kering coklatnya yang mungkin selalu mengerti tentang kegundahan hatinya sampai ia melupakan aku.

Secangkir kopi dan kue kering coklat yang membuatku iri, mengapa dia dan aku tak bisa seperti itu? Yang selalu berdampingan dan selalu melengkapi.

Lalu aku yang semakin kesal, mengingat kenangan yang terekam begitu saja bagai film yang tak ada akhirnya. Padahal dia dan secangkir kopi bahkan kue kering coklat favoritnya yang selalu ia banggakan akan habis bagai ampas kopi yang mengendak di cangkir bergambar minion kesayangannya, begitu pula kue keringnya.

Tapi dirinya tetap ingin aku berada disampingku selalu.
Tidak, tunggu.
Lagi pula dia siapa?

Dia yang memintaku untuk selalu berada di dekatnya adalah hal teregois yang ia lakukan kepadaku. Aku memang lelaki bodoh. Dia yang membiarkanku dan harapanku memenuhi hatinya dangan waktu singkat, sesingkat saat dirinya yang tanpa sadar telah meminum setengah kopinya, dia yang selalu luluh dengan rasa kopi yang ia nikmati, yang memang begitu manis seperti taburan coklat di atasnya.

Tapi dia lebih bodoh, tidak pernah melihat aku yang tanpa lelah memperjuangkannya, memberi perhatian yang menimbulkan ada harapan tinggi baginya.

Kamu tahu kan, dia yang hanya seorang gadis bodoh dengan hati seperti kue kering coklat yang mudah terpotek.

Lalu, kamu ini juga siapa?

Dengan lancang mematahkan hatinya dengan perlahan. Seperti secangkir kopi yang ia banggakan telah memberikan dusta. Kemudian, sekali lagi dia melihat secangkir kopi yang telah habis tapi masih meninggalkan ampas dan kue kering coklat yang hanya menyisakan remahnya.

Seperti kenangan yang tersisa antara aku dan dia, karena sekarang perjuanganku sudah habis, letih berlari. Yang memang dari awal dia tidak pernah berniat berjuang untukku.

Ya, tidak ada yang ingin pergi dan melepaskan, padahal kenyataan dia sangat jauh dari jangkauanku. Karena dia yang diam dan dia terus berlari mengejar harapan tentang rasa secangkir kopi yang ia banggakan.

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang juga ingin berbagi tulisan (boleh berupa surat, opini, cerpen, kegelisahan, puisi, informasi event, tugas survey dsb), kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*