Surat #676 My Never-Comeback Ship

(Disclaimer: Disunting sedikit untuk memerbaiki tata bahasa dan ejaan. Selamat membaca.)

Teruntuk: My Never-Comeback Ship

Kamu pernah bilang ingin hidup selamanya, itulah kenapa aku terus menulis. Mungkin aku tak akan selalu ada untuk tau kamu telah melalui berbagai perjalanan panjang. Tapi setidaknya kamu akan hidup, dalam tiap baris tulisanku, untukku, sebagai seseorang yang aku cintai. Mungkin kamu menerka mengapa aku begitu keras kepala mencintaimu ?
Dan aku menjadi seseorang yang sangat ingin kamu hindari setelah semua ini terjadi….

Biarkan aku mengurai….

Saat di mana kamu datang dalam kehidupanku, adalah saat di mana aku akhirnya berani memilih takdirku sendiri. Setelah sebelumnya aku terkekang dalam sebuah jalinan yang tak pernah benar-benar aku inginkan. Aku telah bertahan sekian lama, menjadi sosok baik di mata semua orang. Tanpa mereka pernah tau aku mengubur separuh diriku untuk bisa diterima.

Kamu adalah orang pertama yang membuka mataku tentang banyak hal, pandanganmu terhadap Tuhan, kehidupan setelah kematian, impian dan bahwa menjadi diri sendiri adalah sebuah pilihan yang selalu kita miliki. Aku menikmati bagaimana aku menjadi diriku sendiri saat bersamamu. Aku tidak pernah berpura-pura cinta atau peduli. Aku tak memaksakan bibirku melekukan senyuman yang sebenarnya aku tak ingin. Hatiku tidak beku sangat aku mengucapkan rindu.

Berulang kali ku pertimbangkan untuk mendekatkan diri, sebab aku melihat kamu bukan seseorang yang bisa dimiliki. Tidak pada langkahmu yang memburu, tidak pada mimpimu yang kau cintai, tidak pada dirimu yang selama ini berdiri sendiri.

Aku pernah mengutarakannya kala itu, tapi kamu bersikeras meyakinkanku….

Dan di luar kuasaku, aku jatuh pada setiap nyawa yang kau berikan lewat kata dalam pesan singkat, aku jatuh dalam bara yang kau bakar lewat setiap kelakar…. Bagaimana aku merasa hidup kembali setelah sekian lama mati.

Katakan padaku bagaimana untuk tidak mencintai orang yang menerbangkan kupu-kupu di dalam perutku sepanjang hari. Katakan padaku bagaimana menahan diri untuk tidak jatuh hati pada orang yang senyumnya kukagumi. Katakan padaku bagaimana bersikap tenang ketika hanya bayangmu yang senantiasa berlalu-lalang

Aku tidak merangkai kata-kata bualan. Kamu tau benar bagaimana aku sering mengakuinya. Aku tidak pandai mencintai dalam diam. Jika bukan bibirku, maka jariku tidak akan berhenti menyusun uraian emosi. Atau aku akan terjaga sepanjang petang hingga pagi. Berusaha keras mengusirmu dari imaji.

Tapi itu akan sangat menyiksaku, membuat kepalaku pening karena berusaha semalaman. Jadi aku memilih membiarkannya, membiarkanmu bersepakat dengan hatiku untuk membawa lari warasku

Apa kamu ingat bagaimana hatimu berdebar membaca namaku di layar? Kalau aku, aku masih mengingatnya benar. Apa kamu ingat bagaimana jarimu tak mau henti mengetikkan kata-kata manis? Aku kini tengah mengingatnya sambil tersenyum. Apakah kamu ingat bagaimana hatimu terasa penuh dan kamu menduga-duga, apakah kamu cinta? Apakah kamu, pernah, benar-benar cinta ?

Ketika selanjutnya pagi ku selalu diawali tentangmu, dan seluruh hariku tak pernah sama lagi. Berlebihankah jika ku sebut indah ? Warna-warna yang kau bawa selalu berbeda, dan semuanya mengesankan. Aku menerimamu begitu cepat menjadi bagian dari kisahku. Meleburkanmu jadi satu di antara alasan-alasanku untuk bahagia. Begitukah ? dengan mudahnya ku simpulkan aku jatuh cinta….

Tanyakan padaku, aku akan menggambarkan padamu bagaimana kamu selalu menularkan kenghangatan dalam setiap hadirmu. Kehangatan yang membuatku merasa cukup hanya dengan mengetahui kita ada di dunia yang sama. Jarak tak pernah begitu mampu membatasi rasa. Aku pernah mengatakan jika akhirnya aku percaya, bahwa cinta bisa datang dari dimensi apa saja. Dan kau tergelak, aku tidak sedang mengatakan kamu datang dari dunia fana. :”) Haha

Aku sering kali benar-benar ingin tertiup angin dan mendapati kakiku sudah berdiri di hadapanmu. Apa kau akan keberatan jika aku memelukmu sebagai ungkapan rindu? Karena ternyata kata-kata tak mampu lagi menyuratkan rasaku dengan baik.

Semua yang kamu lakukan juga membuatku melekukkan senyum terus-terusan, apakah aku pernah mengakuinya ?

Saat ku dengar suaramu untuk pertama kali. Aku mengatakan pada diriku sendiri. Aku benar-benar akan gila.
Seseorang ini, tanpa perlu banyak usaha telah membuatku jatuh. Tentu bukan salahmu saat ku katakan aku menjatuhkan hati sepenuhnya padamu. Aku juga tak bisa menyebutnya salahku. Hanya saja, kau telah menjelma poros dalam duniaku. Maaf jika aku terus berlari mengejarmu.

Jika pada akhirnya kamu memilih pergi karena merasa terbebani, aku menduga apakah aku mencintai terlalu banyak… dan membuatmu tenggelam. Atau pikiran-pikiran tentang hidup dan kematian yang membuatmu begitu lelah. Malam itu kau ceritakan tentang banyak pintu terkunci di dalam kepalamu. Tentang banyak paham mengenai kebebasan.

Dan orang-orang disekitarmu yang kental dengan keputusasaan. Pada akhirnya aku sadar bahwa aku hanya berdiri di ambang…. Tanpa pernah benar-benar mampu menyentuhmu. Aku pernah berharap membuka satu pintu di kepalamu dan tinggal selamanya di sana untuk menjadi salah satu alasanmu bahagia. Tapi aku bukanlah seseorang yang kamu inginkan untuk tinggal bukan ?

Aku pernah berbicara tentang harapan, bagaimana aku selalu hidup dan berharap untuk mewujudkan mimpi yang bahkan telah lama aku lupakan… Lalu kenapa kamu harus takut ketika kamu telah sepenuhnya hidup untuk mewujudkan mimpimu? Kita hidup pada sebuah bola biru yang beredar mengelilingi bara api tanpa pernah terbakar
Dan kamu masi berpikir ulang tentang keajaiban? Kamu tau, jika kita benar-benar bisa bertukar mata,

Aku akan memaksamu melihat lewat mataku, agar kamu tau bagaimana semua yang kamu miliki sudah pantas disyukuri. Cobalah untuk tidak terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti, membangun benteng-benteng pertahanan yang tidak perlu di hati dan kepalamu. Duduklah dengan tenang, kenyataan tidak akan pernah membiarkan kita lemah tanpa harapan

Jadi apakah sekarang kamu sedang menggelengkan kepala, menolak semua kata yang membuatmu muak? Baiklah… kamu tidak akan membiarkan ku menyentuh hatimu lagi? Karena kamu lebih takut merasa bersalah ketimbang melihat betapa tabah aku bertahan sendiri.

Bagaimana jika kamu tidak pernah merindukanku? Sebab aku tak pernah memberimu ruang untuk itu. Bagaimana jika kehadiranku tak pernah begitu kamu inginkan? Sebab aku tak pernah meninggalkanmu. Bagaimana jika kamu berusaha menghancurkanku? Sebab aku begitu keras kepala bertahan untukmu.

Bukan, aku bukan ingin mengatakan betapa aku hebat menghadapi luka. Aku hanya ingin kamu tau…. Seseorang sepertimu selalu pantas untuk ditunggu

Baiklah. Aku akan memelukmu lewat doa, seperti yang selama ini aku lakukan pada tiap-tiap malam saat kamu terlelap…. Namun lebih erat….. Agar kita menjadi dua orang yang baik-baik saja, yang saling memberi nyawa dan bukan mematikan.

Agar semua hal buruk tak pernah mampu menyentuhmu
Agar kamu melihat masih banyak hal yang patut kita syukuri
Agar semua mimpimu pada akhinya menjadi nyata
Aku beharap memiliki hati yang tidak akan pernah patah untuk memahami

Dan sebuah aamiin untuk pertemuan yang masih menjadi mimpi

Tertanda,

Pluvi

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang juga ingin berbagi tulisan (boleh berupa surat, opini, cerpen, kegelisahan, puisi, informasi event, tugas survey dsb), kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*