Prosa #31 Sekar

Oleh: Richeese Nabati

Sekar… itulah namamu, di awal aku yakin kau adalah jawaban atas do’a-do’a itu, tapi aku semakin bimbang saat semua orang memperdebatkan suatu teori tentang bumi bulat dan datar. Apa yang mereka pikirkan? Hingga menghabiskan waktu cukup lama untuk beradu otot dan argumen. Pikirku, semua yang mereka bicarakan tidak terlalu penting, sudahlah. Seketika itu pula kekuatanku mulai menipis dan aku kian tak berdaya memandangi fotomu yang terpajang di wallpaper handphone-ku.

Lalu ku teguk es teh manis dalam botol tupperware kepunyaan ibuku berwarna hijau bermotif bunga-bunga. Segar dan indah sekali. Seperti senyumanmu yang manis, nyaris tipis layaknya lengkungan bulan sabit sempurna. Lantas haruskah aku berbuat sesuatu? Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginan dengan nafsu yang menggebu-gebu.

Biar kuceritakan sedikit padamu tentang Sekar.

Sekar adalah wanita dengan siluet yang menari-nari indah dalam pancaran senja, debur ombak dan nyanyian nyiur pohon kelapa. Tak ada yang manis di awal perkenalanku dengannya, yang ada hanya ketenangan yang nyaris tak pernah habis.

Seperti anak kecil dengan permen lolipop ditangannya. Aku senang saat berbicara denganmu tentang ribuan buruh berdemontrasi didepan gedung DPR, menyuarakan aspirasi demi sebuah kesejahteraan atau membicarakan saham Freeport yang tak kunjung habis dimakan oleh imperialis asing.

Hampir tanpa celah aku terus memujamu, dalam do’a yang kupanjat di setiap sujudku, aku harap rasa ini takkan pernah habis dan terus mekar seperti bunga di musim semi dengan kupu-kupu yang terbang indah di atas, walaupun banyak kendala dan bencana menghampiri.

Salam hangat penuh cinta,

Kumbang.

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang juga ingin berbagi tulisan (boleh berupa surat, opini, cerpen, kegelisahan, puisi, informasi event, tugas survey dsb), kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*