Opini #2 Cinta dan Segala Keruwetannya

Oleh: Bonnie

Disclaimer: Tulisan ini ditulis 4 tahun yang lalu, saat masih berusia 17 tahun. Belum memiliki KTP, tapi sudah melegalkan pacaran untuk dirinya sendiri. Tulisan ini pernah dimuat di blognya 4 tahun lalu. Sayangnya, blognya sudah nggak aktif, pacarnya sudah pergi meninggalkannya, dan yang tersisa dari Bonnie saat ini hanyalah? Hanyalah mantan. Selamat menikmati tulisan yang menyenangkan ini.

Aku sudah 17 tahun 4 bulan. Astaga, aku nggak nyangka udah setua itu padahal mukaku masih imut-imut kaya pantat bayi.

Well, dalam usiaku yang udah ganjil, 17, ini aku sudah merasakan “sedikit” asam, manis, pahit soal cinta.

Cinta… cinta… ada apa dengan cinta.. perbedaan aku dan engkau…

Loh, kok, malah menyanyi.

Cinta itu tentang dua anak cucu nabi Adam yang saling mengasihi dan menyayangi. Oke, aku nggak bisa mendefinisikan kata cinta dengan kata-kata bagus layaknya Mbak Dwitasari atau Raditya Dika atau penulis lainnya. Karena dalam usia selabil ini, cinta, buatku, nggak bisa didefinisikan. Cinta itu cuma bisa dirasakan. Kalau kamu tiba-tiba kangen sama seseorang dan, tentu saja, lawan jenis, setiap hari, setiap mau tidur, setiap lagi boker, berarti kamu jatuh cinta. Tergantung, sih, kecuali kalau kamu lagi mikirin berapa besar utang kamu ke dia.

Cinta itu muncul ketika kamu mulai menutup mata dan telingamu tentang hal-hal buruknya, dan percaya segala macam kejujuran dan kebohongannya. Seperti kata pepatahlah: “Cinta itu buta.

Cinta itu ruwet, buanget. Karena cinta itu menyatukan perbedaan. Cinta menyatukan ego perempuan dan laki-laki. Dan, seperti yang kita tahu, perempuan dan laki-laki amat sangat berbeda. Dari segi fisik ataupun pemikiran.

Cowok, hmmm, nggak habis-habisnya aku penasaran tentang makhluk Tuhan satu itu. Kalau cowok bilang, cewek adalah makhluk dengan segudang bahasa isyarat yang membingungkan. Kalau buat aku, cowok adalah makhluk Tuhan paling misterius yang pernah diciptakan.

Memang sudah takdir cowok dan cewek mempunyai pemikiran yang 90% berbeda. Kalaupun ada persamaan, ya, cuma 10% aja.

Kalau ngomongin soal cinta dan hal-hal pacaran, jujur aja, aku paling suka curhat ke cowok. Kenapa? Karena dari situ kita bisa mengerti dan tahu, apa yang mesti dilakukan karena yang jadi tempat curhat itu cowok.

Tapi ‘kan nggak semua cowok itu sama.

Iya, emang, nggak semuanya sama. Tapi mereka tetep satu jenis, satu spesies. Sebeda-bedanya mereka, tetep aja ada banyak hal yang sama.

Pertama, kenalkan temen yang paling cerewet sekaligus bijak nan gila. Panggil aja dia: Didin. Dia pelawak di kelas.

Semalam, yang seharusnya jadi malam-ngapel-buat-orang-pacaran, dia malah dateng kerumahku sambil ngerampok jajanan di rumah. Widih, pakai sepatu Nike, jaket super besar, sambil bawa satu pack rokok, sudah kayak preman.  Eh, ternyata dia dateng ke rumah cuma mau curhat.

Cinta Didin dan kecengannya ini emang rumit, kelewat rumit, sampai aku sendiri pusing. Secara garis besar, yang menyebabkan mereka nggak jadian adalah: waktu. Yak, apalaah arti sebuah perasaan yang sama di waktu yang nggak tepat? Gatot. Ntar aku ceritain dikit tentang mereka.

Yang paling penting, aku dapet quotes keren dari seseorang yang emang cerewet ini. Dan yah, girls, coba pahami, ini yang ngomong cowok, loh. Jawaban ini aku dapet setelah aku ngeluh: “Kenapa, sih, cowok itu mbingungi, suka banget ngegantungin cewek? Nggak peka?”

Didin bilang: “Kalo kata Mbakku, se, Mak. Nggak ada orang di dunia ini yang nggak peka. Kalo ada orang yang nggak pekaberarti orang itu nggak punya hati. Orang mati.

Didin kemudian menghisap rokoknya lagi, lalu meneruskan:

“Jadi, kalo kamu bilang cowok itu nggak peka, itu jelas salah besar. Bukannya aku ngebelain cowok. Tapi, sekarang gini aja lah, kamu, sebagai cewek, ngerasa nggak kalo kamu itu mbingungi? Perilaku sama omongan itu kadang nggak sama. Nah, itu yang bikin kita, cowok-cowok, bingung, ragu-ragu. Padahal, ya, sebenernya kita itu tahu, kita itu diem-diem ngerasain perbedaannya. Tapi ragu, ini beneran apa enggak.”

Kemudian didin minum sirup.

Didin cerocos lagi“Belum lagi kalo pacaran. Pasti ‘kan kita mau nggak mau harus ngebagi waktu, ngebagi hati. Sedangkan kamu sendiri tahu, kalo cowok itu hidupnya melekat dengan main. Jomblo nggak jomblo, ya, pasti keluar rumah, sibuk ngumpul sama temen-temennya, main. Sedangkan cewek pasti kebanyakan di rumah. Dan inilah asal muasalnya. Hidup cowok bakal dibagi pikiran dan waktunya antara pacaran dan main. Sedangkan cewek, karena jarang main, otomatis pemikirannya bakal full ke pacaran, kan? Mudeng kan?”

Aku manggut-manggut. Didin menghisap rokoknya lagi.

Didin melanjutkan“Nah, itulah, Mak, yang bikin kita, cowokcowok, jadi serba salah.”

Aku manggut-manggut, paham lagi, ya.. emang 100% bener. Kalau buat aku…

Dan waktu…. Aaaah, campur tangan waktu juga bikin cinta makin ruwet. Ini ada cuplikan kecengannya Didin:

Kecengan Didin, supaya misterius, kita sebut saja si *****. ***** bilang: “Habis, aku capeklah, Mak. Dulu, aku ngejar-ngejar dia. Dan dia cuek. Sekarang giliran aku udah mulai capek, dia malah mbalik ngejar aku. Aku sakjane kecewa, se, Makdia kelamaan.

Padahal, saat Didin cuek, dia sebenernya lagi bingung dan ragu-ragu apa benar si ***** suka sama dia atau cuma becanda. Dan ketika ***** sudah mulai bosan ngejar, Didin baru yakin kalo ***** beneran suka sama dia.

Huf.

Keruwetan cinta nggak cuma sampai di situ. Sebuah status pun juga bisa bikin galau dan ruwet setengah mati. Uhuk.

Status yang enggak diakuin contohnya. Siapa yang nggak was-was kalau sudah pacaran tapi nggak diakuin? Atau HTS-an yang nggak kunjung berkembang menjadi pacaran, status yang diakui?

“Semanis-manisnya HTS-an, tetep aja diakuin sebagai pacar lebih menenangkan.”

Itu, sih, quotes buat orang yang sudah di PHP-in bertahun-tahun dan nggak pengen HTS-annya punya pacar selain dia.

Dan quotes buat semuanya aja, deh:

“Coba dulu,usaha dulu. Orang yang selalu mencoba, yang pede, pasti bakalan selangkah atau bahkan dua langkeh di depan orang yang cuma bisa berhenti karena ragu-ragu. Hidup itu pilihan, sakit hati, depresi karena salah langkah itu wajar. Bukannya kita, semakin hari harus jadi semakin dewasa?”

Dan ada lagi temen baikku, Halda, yang galau gara-gara habis putus sama pacarnya. Dan yang menyedihkan lagi, dia tahu kalau pacarnya itu ganjen, ya, setelah putus. Eh, itu sebenernya bukan menyedihkan, sih, tapi justru menguntungkan. Karena berarti Halda masih disayang Allah karena dipisahin dari cowok ganjen macem mantannya itu.

Alah, alah, jujur aja, quotes terbaik yang paling sering muncul di otakku cuma ini:

“Kita masih remaja, Rek, masih terlalu muda untuk mikirin cinta, jodoh, dan nangisin hal tentang pacar-pacaran. Aku yo tahu ngerasakno, galau iku bukane bikin ‘plong’ malah bikin uripmu makin ruwet. Just let it flow. Hadapi, ae, apa yang sekarang terjadi. Tetep usaha, dan berhenti di saat emang bener-bener nggak ada kesempatan lagi. Kon nggak mati, kok, nek kon jomblo pirangpirang taun. Ilingo, jodohmu gak nandi nandi.”

Sekian.  Dan. Selamat malam.

*

Sedikit terjemahan untuk beberapa kata dalam bahasa Jawa di atas:

Mudeng: paham

Sakjane: sebenernya

Ngerasakno: merasakan

Bukane: bukannya

Uripmu: hidupmu

Ae: aja

Kon: kamu

Nek: kalo

Pirang-pirang: beberapa

Ilingo, jodohmu nggak nangndi-nangndi: inget, jodomu nggak kemana-mana

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang juga ingin berbagi tulisan (boleh berupa surat, opini, cerpen, kegelisahan, puisi, informasi event, tugas survey dsb), kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*