Prosa #21 Hitam dan Putih

Oleh: Ricis

Disclaimer: Prosa ini adalah prosa balasan untuk prosa Violencia yang berjudul ‘Caramel Machiato dan Prosa Sore Hari’. Kalian bisa membaca prosa Violencia dengan klik ini, ya.

Violencia, aku tahu kegundahan dengan sebuah pilihan yang kamu rasakan saat ini, tentang memori dan sebuah rasa, seperti secangkir caramel machiato yang pertama kali kamu coba: terasa hambar. Seteguk kemudian: terasa manis. Lima teguk kemudian: terasa manis dan sedikit gurih. Delapan teguk kemudian: muncullah rasa pahit. Begitupun prosa sore hari yang kamu tulis, tentang ibumu yang memaki dengan kalimat tajam. Namun harus kamu ketahui, itu sebuah pilihan yang memang harus kamu pahami.

Dan aku tahu, karena aku pernah berada dalam zona itu.

“Bagai langit dan bumi yang tak pernah sealam. Bagai hitam dan putih yang tak pernah sewarna, hanya kita yang merasakannya belajar melepaskan dirinya. Walau setengahku bersamanya, kuyakin kita ‘kan terbiasa walau inti jiwa tak terima. Bagai air dan api, yang tak pernah senyawa. Bagai timur dan barat, yang tak pernah searah. Belajar melepaskan dirinya walau setengahku bersamanya, kuyakin kita ‘kan terbiasa walau inti jiwa tak terima. Belajar melepaskan dirinya walau setengahku bersamanya, kuyakin kita ‘kan terbiasa walau inti jiwa tak terima.” Sebuah syair lagu yang pernah kudengar, dan mungkin bisa kita pahami.

Perihal, dingin pada kalbu, mungkin aku hanya seseorang yang hadir sebagai prosa dalam cerita pahit dan manismu.

Dan sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu: mengapa kamu memilih aku sebagai alasan untuk menulis?

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang juga ingin berbagi tulisan (boleh berupa surat, opini, cerpen, kegelisahan, puisi, informasi event, tugas survey dsb), kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Undangan Berbagi Tulisan di Sayaappgossip.id kepada Para User SayaApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*