Cerpen #1 Wajah Soekarno

Oleh: Vellichor

Alih-alih bermalam di hotel bintang lima, anak pengamen itu lega nan bangga bisa tidur edi kolong jembatan berbintang sejuta.

Sejak sebelum mengenal alfabet, anak pengamen itu acap kali bermain metafora. Hari raya sebentar lagi tiba. Maka ia berandai-andai bahwa angin adalah sapi. Ia mencincang angin, mengolah dan menelannya dengan lahap. Lalu masuk angin, berhari-hari.

*

Suatu hari, anak pengamen itu melihat seorang kakek tua mantan penjaga museum, dikerumuni anjing-anjing yang bersiap menjilati boroknya. Hal yang menjijikan bagi satu makhluk barangkali menjadi mata air bagi makhluk lainnya.

“Siapa namamu?” Pertanyaan si kakek membuyarkan lamunan anak pengamen.

Ia menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,”jawabnya.

“Aku juga banyak tidak tahu tentang banyak hal,”sahut si Kakek. “Karno saja, yak?”

Anak pengamen itu termenung. Ia tidak mengiyakan ataupun menolak. Namun, jika seseorang menanyakan namanya, ia dengan mantap menjawab,“Karno.”

Kakek bercerita kepada Karno. Dia bercerita, dia berhenti menjaga museum karena sudah lelah berkutat dengan debu dan laba-laba. Tetapi dari rekan sesama pengamen lainnya, Karno tahu, kakek dipecat karena kakek sudah gila.

*

Seminggu sebelum dipecat, setiap tengah malam, kakek mengendap-endap di balik dinding dengan barisan pigura pahlawan. Kakek bersikeras bahwa para pahlawan dalam foto itu bergerak dan berbicara satu sama lain. Mereka berdebat tentang siapa yang paling hebat. “Tapi aku yang terdepan memegang tombak runcing!” seru kakek. Lalu senyap. Begitu terus, setiap malam.

Malam terakhir, sebelum dipecat, kakek tidak dapat menahan dirinya lagi. Riuh rendah kembali bergemuruh saat kakek sedang berpatroli. Dia menghampiri foto para pahlawan. Lalu senyap. Kali itu kakek datang dengan sebuah kardus besar, dicopotinya seluruh pigura dan dihempaskannya ke dalam kardus. Kakek tergopoh-gopoh membawa kardus ke pelataran museum. Seliter bensin telah tersedia di sana.

Hitam dan kelabu. Malam begitu pekat. Gelombang asap berkobar bebas ke udara. Kakek tersenyum. Ia menari sampai subuh, lalu tertidur di samping tumpukan abu.

Menjelang waktu pembukaan museum anak-anak SD bergerombol mengelilingi Kakek. Sebagian mengumpat, sementara yang lainnya berpekik ria. Museum ditutup bagi pengunjung entah sampai kapan. Darmawisata ke museum yang sama setiap tahunnya adalah kejemuan tersendiri bagi anak-anak itu. Sejak saat itu, kakek resmi dipecat.

*

Kakek hidup sebatang kara. Itu sampai sebelum kakek bertemu dengan Karno di kolong jembatan. Karno sering menemui kakek, meskipun hanya untuk percakapan satu arah oleh kakek kepada Karno. Kakek senang karena dia kembali menemukan anak kecil di dalam dirinya setiap bertemu Karno. Karno bahagia dapat mengenal sosok orang tua yang mengasihinya, sekaligus memperoleh separuh hasil mengemis si kakek.

Begitulah pertemuan-pertemuan antara kakek dan Karno dicanangkan tanpa tedeng aling-aling. Selain itu, menjadi kebiasaan yang wajib bagi mereka berdua untuk menikmati jatah daging kurban hari raya bersama-sama. Begitu terus. Sampai paceklik pun tiba saat Karno telah berusia 17 tahun.

*

Kering-kerontang dan gagal panen adalah pasangan yang lumrah. Itu berarti tidak ada jatah daging kurban bagi kakek dan Karno tahun itu. Dan orang-orang sibuk menyimpan demi menyelamatkan diri mereka sendiri. Belas kasihan terhadap orang lain pun harus dihemat.

Kakek kian menua dan renta. Karno setia menemani kakek. Demikian juga seekor anjing yang mendamba boroknya. “Aku rasa aku akan segera mati jika esok juga tidak dapat makan daging,” keluh kakek.

Senja merekah. Kakek meraih seonggok karung goni yang biasa dijadikannya bantal. Ia membuka karungnya selebar mungkin, seolah ingin menampung berkas-berkas keemasan terakhir di hari itu ke dalamnya. Kakek mengambil sebuah pigura dan memperlihatkannya kepada Karno.

Wajah Soekarno memantulkan cahaya jingga yang menggenang. “Kautahu kenapa aku tidak membakarnya?” tanya kakek. Karno hanya menggeleng.

“Ia anak yang penurut. Walau senang berpidato, ia selalu diam saat kuperintahkan untuk diam,” ujar kakek. Itu adalah perkataan Kakek yang terakhir. Keesokan paginya, Karno menjumpai kakek sudah tidak bernapas lagi. Nadinya telah berhenti total. Karno bergeming.

Seolah telah terlatih menjadi mesin otomatis, Karno membopong cangkul dan jenazah kakek ke lahan yang lapang. Sebuah lahan kosong tepat di seberang museum tempat kakek bekerja sebelumnya. Karno menggali dan menggali. Ia tak menghiraukan bulir-bulir keringatnya yang mengalir deras. Setelah dirasanya cukup, Karno berhenti menggali dan meletakkan jenazah kakek di dasar lubang. Karno telah bersiap menimbun lubang itu kembali dengan tanah, ketika ia melihat seekor anjing dan kerumunan orang-orang di belakangnya yang mengejar anjing itu.

Anjing itu sampai lebih dulu kepada Karno dan bersembunyi di belakangnya seolah meminta perlindungan. Tak lama kemudian, para pengejar berhasil mengepung Karno bersama anjing buruan mereka. “Tidak ada gunanya bersama orang bisu ini, Njing!”

Seloroh pedas mereka mulai mengundang amarah Karno.

Tiba-tiba anjing itu memuntahkan sesuatu ke dalam liang kubur jenazah kakek. Dengan jelas Karno dapat melihat cabikan foto yang diperlihatkan Kakek kepadanya pada senja kemarin.

Karno mengambil cangkul dan mengayunkannya ke segala arah seperti orang kesetanan. Orang-orang menertawakan Karno dan mengolok-oloknya. Anjing itu kini adalah perkara kedua yang menarik setelah Karno. Namun setelah mengamati bahwa Karno perlahan mendekati dan tanpa ragu menargetkan mereka sebagai sasaran cangkulnya, satu demi satu mulai meninggalkan Karno. Sementara yang lainnya telah kelelahan serta bosan mengejek kebisuan Karno.

Karno ambruk ke tanah. Dengan sisa-sisa kekuatannya ia kembali menimbun jenazah Kakek. Anjing itu membantu Karno mengebaskan tanah dengan kakinya ke dalam liang. Usai mengubur kakek, Karno kembali ke ke tempat ia tidur di kolong jembatan. Anjing itu mengikutinya.

*

Anjing itu selalu mengikuti Karno ke mana pun Karno mengamen dan tidur. Satu tahun pun berlalu. Musim hujan telah datang. Karno membagi dua jatah daging kurbannya dengan anjingnya yang setia.

“Siapa bilang kau dan aku ini bisu?” Hanya Karno yang dapat mendengar anjing itu berkata-kata.

Karno bersenandung.

Ngak-ngik-ngok. Ngak-ngik-ngok. Kakek sudah mati.

Ngak-ngik-ngok. Ngak-ngik-ngok. Aku tidak perlu membisu lagi, pikir Karno.

Karno yakin, anjing itu ialah jelmaan ayah kandungnya.

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang juga ingin berbagi tulisan (boleh berupa surat, opini, cerpen, kegelisahan, puisi, informasi event, tugas survey dsb), kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Undangan Berbagi Tulisan di Sayaappgossip.id kepada Para User SayaApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*