Cerbung: Rin #2

Oleh: B

“Aku adalah Thanatos, Nona Muda. Dewa kematian,” ujarnya, sambil membungkuk memberi salam, lalu tiba tiba sepasang sayap muncul dari balik punggungnya.

“Jadi… kaudatang ke sini untuk mengambil nyawaku? Kenapa tak kaulakukan saja sejak sore tadi? Bukannya aku sudah dengan sukarela memberikannya?”

“Kaupikir mati itu mudah?” Ujarnya. “Kau masih punya waktu untuk hidup, kenapa menyerah begitu saja?”

“Hidupku ini tak ada yang menarik, lebih baik mati saja.”

“Kaupikir mati itu menarik?” Tanyanya.

“Entahlah, kurasa lebih baik mati daripada hidup dengan hampa seperti ini.”

“Jadi, kau merasa jika hidupmu ini hampa? Bagaimana bisa?”

“Entahlah, aku sudah tak punya alasan lagi untuk hidup. Lalu mengapa harus hidup lebih lama lagi? Untuk mengumpulkan dosa-dosa?”

“Bagaimana bisa kau berpikir, kau tak punya alasan lagi untuk hidup? Apa kau tak punya impian-impan dan tujuan dalam hidup?”

Rin terkekeh. “Aku sudah tak punya mimpi dan tujuan hidup sejak dua tahun yang lalu.”

“Mengapa?”

“Yah, kurasa hidup itu cuma permainan Tuhan saja. Apa pun yang kulakukan, yang aku impikan, pada akhirnya akan gagal jika Tuhan berkata tidak.”

“Sudah seberapa sering kau gagal dalam hidup?”

“Terlalu sering, aku sampai bosan.” Rin merebahkan diri di sebelah tubuhnya, memandang langit-langit kamar rumah sakit yang seputih awan. “Bahkan, mati saja aku selalu gagal. Aku merasa, hidup sudah tak menarik lagi buatku. Begitu hampa, tak ada hal yang bisa membuatku bahagia. Bahkan orang-orang yang kucintai sekalipun. Mereka hanya, membuatku menjadi seseorang yang tak kukenal. Aku semakin kehilangan diriku sendiri. Rasanya, semakin lama kau hidup, yang kautemui hanyalah kepahitan. Semakin kau mengenal hidup, semakin menyakitkan. “

“Lalu, kaupikir, mati itu lebih baik dari hidup?”

“Entahlah, aku belum pernah mati. Tapi aku bisa berekspektasi, kan? Semua orang selalu membayangkan hal-hal yang baik pada sesuatu yang belum pernah mereka rasakan, ya, karena mereka belum merasakannya. Sedangkan hidup, aku sedang merasakannya dan ini begitu menyakitkan. Maka apalagi yang bisa aku harapkan? Kematian adalah sesuatu yang belum pernah aku rasakan.”

Pria berambut kecoklatan itu mengembangkan senyum di wajahnya, “Kau benar-benar siap untuk mati, ya?”

Rin menganguk. “Bawalah aku. Kumohon.”

“Memangnya kau tak peduli dengan orang-orang yang akan kautinggalkan? Terutama ibumu? Apa kau tidak sadar bahwa yang kaulakukan saat ini begitu egois?”

Rin menggeleng. “Semua orang akan tergantikan dengan orang yang lain, maka ketidakadaanku juga tak akan berarti apa-apa dalam hidup mereka. Aku hanya sebutir beras di antara beras-beras yang lainnya. Mereka bisa menemukan seorang yang lain seperti aku, bahkan lebih baik dari aku. Seseorang yang bisa membuat mereka tertawa, bahagia, bersedih. Tapi aku, aku tak akan pernah bisa menemukan orang yang membuat diriku bahagia, kecuali diriku sendiri.”

“Dan kaupikir, mati bisa membuatmu bahagia?”

“Ya, setidaknya aku tak akan menyakiti seseorang lagi. Setidaknya aku terbebas dari berbagai macam hal yang tak kusuka, setidaknya aku tak lagi menambah masalah untuk orang lain.”

“Sejujurnya, aku benci dengan pekerjaanku. Aku begitu sedih melihat orang-orang yang kubawa pergi, biasanya mereka memohon agar aku tak membawanya, tapi kau, kau malah dengan senang hati dan berharap agar aku membawamu.”

“Ini soal kepuasan diri. Aku sudah puas dan merasa begitu cukup hidup di dunia ini. Tak ada lagi alasan untukku berlama-lama di sini. Aku hanya ingin terbebas dari segala macam hal dari kehidupan. Ingin terbebas dari takdir yang mengikat. Hidup hanya akan memberikanmu persoalan-persoalan yang tidak ada habisnya. Tak pernah benar-benar membuatmu bahagia. Sedangkan tujuanku hidup adalah untuk berbahagia, bukankah itu suatu kesia-siaan?”

Rin melihat kedua orangtuanya yang tengah berpeluk dan menatapnya yang tengah terbaring dengan sedih. Kedua mata ibunya sembab, tak henti-hentinya ia menyeka mata dan hidungnya yang terus berair. Sedangkan ayahnya, yang selama ini berwajah dan bersikap dingin dan keras, terlihat begitu lemah dan rapuh.

“Kau masih yakin mau meninggalkan mereka, Nona? Mereka terlihat begitu sedih.”

“Suatu saat nanti, kita juga pasti akan berpisah, Tuan. Entah aku atau mereka yang pergi meninggalkan, bukankah kau sendiri sudah tahu?”

“Baik, aku akan membawamu,” ujar Thanathos. Ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Kedua sayap di punggungnya terbuka lebar, Rin menyambut uluran tangan Thanathos.

“Sampai jumpa, Ayah, Ibu, aku sayang kalian.”

Thanathos mengepakkan sayapnya dengan anggun, lalu terbang pergi, membawa Rin bersamanya menuju tempat yang tak memiliki batas waktu.

Selesai.

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang juga ingin berbagi tulisan (boleh berupa surat, opini, cerpen, kegelisahan, puisi, informasi event, tugas survey dsb), kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

Undangan Berbagi Tulisan di Sayaappgossip.id kepada Para User SayaApp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*