Surat #651 Kucing Kecil

Teruntuk: Kucing Kecil

Saya nggak tahu kenapa kamu pengen ‘Teruntuk’ pada surat ini ditujukan kepada ‘Kucing Kecil’ saja.

Tapi, sejak  kali pertama kita kenal pun, sebenarnya ada banyak hal yang saya nggak tahu tentang kamu. Saya enggan menanyakannya, sebab saya lebih memilih untuk menyimpannya untuk diri saya sendiri, dan akan saya tanyakan kapan-kapan saja, kalau di suatu hari nanti, di suatu tempat entah di mana, kita bertemu—entah secara tak sengaja di toko buku atau perpustakaan entah di mana ataupun secara sengaja saat kamu ke Jakarta, atau saya yang ke Semarang. Akan selalu ada pertanyaan yang lebih baik ditanyakan secara langsung daripada ditanyakan melalui sebuah surat, percakapan atau sambungan telepon. Terdengar rumit? Tepat. Seperti biasa, kan, sebagaimana kamu mengenal saya.

Sekarang gantian. Saya yang akan menceritakan pertemuan pertama kita di SayaApp. Kita bertemu tiga-empat bulan lalu. Kamu, dengan cara bertuturmu yang angkuh, sinis dan—aneh. Kamu, yang katanya menginginkan perubahan, tapi ketika ditanya ‘Kamu mau menjadi perubahan itu sendiri?’, cuman menjawab ‘he-he’. Kamu, yang terlihat gahar, sangar dan seolah galak seperti anak kucing kelaparan yang kehilangan induk, tapi tiba-tiba PC saya, dan tuturmu yang biasanya angkuh, sinis dan—aneh, luntur digantikan dengan tuturmu yang sendu dan seperti ingin menangis, karena.. karena apa, sih, waktu itu? Patah hati? Berharap berlebihan kepada seseorang yang ternyata mempermainkan perasaan kamu?

Jelas, kamu sedang bercerita kepada orang yang salah. Saya, barangkali, adalah pemberi nasehat paling buruk di dunia. Tapi, sejujurnya, saya sedang mencoba menjadi pendengar yang baik. Setidaknya, saya mencoba, setelah kamu ngamuk, dan leftchat seenak jidatmu yang lebar itu, untuk kemudian delacc, uninstall—walau, ya, kita tahu, pada akhirnya kamu kembali lagi, entah masih membawa luka yang sama atau telah menjadi seseorang yang baru.

Saya menyukai suara kamu. Cara kamu bernyanyi mengingatkan saya kepada seorang gadis yang dulu sekali pernah jadi cinta pertama saya. Iya, suara kalian sama-sama level penyanyi kamar mandi. Bedanya, kamu penyanyi kamar mandi dengan suara genjrengan gitar. Saya masih berharap bisa menyimpan suara kamu saat menyanyikan ‘Photograph’-nya Ed Sheeren, tapi kamu sudah kadung leftchat, dan membawa pergi segala sesuatu yang pernah kamu sampaikan.

Perihal sebutan Kucing Kecil untuk kamu, sebenarnya itu pas, loh. Coba, deh, tanya, ke siapa pun yang sudah mengenal kamu cukup lama. Kamu itu seperti anak kucing kecil kelaparan yang kehilangan induk, yang menggigit siapa pun yang mencoba untuk menepuk kepala atau mengelus bulu-bulu di punggungmu. Kamu pikir kamu adalah seorang singa, saat kamu mengaum dan mencakar ini itu, dan mendesis tajam. Padahal, kamu cuman kucing kecil, yang mudah kelaparan, kesepian dan nggak segalak yang kamu (dan orang-orang pikir). Kamu menyebalkan dan sok galak. Saya sudah pernah bilang, kan?

Jadi, gimana? Sudah menemukan seorang pria yang tepat, setelah sebelumnya kamu ketemu seorang bangsat? Belum? Ya udah, sih, hidup bukan hanya tentang mencari seseorang yang ingin kaucintai dan kau ditemukan oleh orang yag ingin mencintaimu sampai tua nanti. Nggak semuanya tentang cinta—kalau ga salah, istilahnya, cinta yang eros. Cinta yang philia dan agape pun penting, loh. Karena, ketika kau hanya fokus kepada cinta yang eros, kau akan melupakan cinta yang philia dan agape.

Masih ingat, kan, kuliah malam kita tentang SSI? Iya, speak-speak iblis. Jangan lupa itu. Saya kadang suka kepikiran, kucing kecil kayak kamu, jangan-jangan akan luluh hanya dengan diberi sarden, terus tahu-tahu kamu dimakan oleh manusia pemakan kucing, seperti di novel ‘Dunia Kafka’-nya Haruki Murakami. Sadis, loh. Maka itu, saya sering bilang ke kamu ‘Seorang perempuan itu harus cerdas, kuat dan bijaksana’, ‘Jangan mau dipermainkan oleh laki-laki, apalagi sama laki-laki bangsat kayak saya. Sesekali, kamulah yang mempermainkan laki-laki.’, ‘Banyak membaca, supaya cakrawala berpikir kamu terbuka,’. Intinya, sih, jadilah seorang wanita yang kuat dan cerdas. Jangan terlalu terbawa perasaan dan melupakan logika. Nggak semuanya harus ditentukan dengan perasaan, apalagi ketika kamu tahu di depan ada jurang, dan cowok yang kamu cintai bilang ‘you jump, I jump, kita akan hidup bersama selamanya di akhirat sanah’, terus perasaan kamu bilang ‘udah,loncat aja, yang penting romantis, sedap’, sementara logika kamu bilang ‘Tolol lo! Di depan sanah jurang, di bawahnya bebatuan cadas, lo loncat, sedetik setelah mendarat, lo ga bakal jauh beda dengan telur pecah’. Dan nggak semuanya juga, sih, harus ditentukan dengan logika. Logika kadang menipumu, dan perasaan kadang melenakanmu. Tapi tergantung, sih.

Sudah terdengar seperti meracaukah surat ini?

Kalau sudah, berarti surat ini saya cukupkan sampai di sini.

Mau saya beritahu bullshit terbesar yang mungkin akan kamu dengar dari saya?

Saya menyayangi kamu.

Terimakasih.

Dan.

Maap.

Tertanda: Kucing Besar

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*