Surat #516 Hasianku

Teruntuk: Hasianku

Hasian, mau kukasih tahu satu hal, yang mungkin kaupengen dengar?

Kau adalah manusia pertama yang kuajak meetup. Kita nggak perlu mendebatkan, siapa yang pertama kali mengajak siapa, kan? Ho-ho-ho. Selain itu, kau juga menjadi salah satu manusia yang tahan berteman denganku. Ta, jujur, aku adalah salah satu manusia di muka bumi, yang barangkali, membosankan di dunia, lengkap sepaket dengan ‘ke-alien-an’ yang mungkin sudah kautahu sendiri. Aku bisa meninggalkan chat sekian lama tak terbaca, dan setelah dibaca pun, yang kubalas hanya jawaban remeh temeh—yang bagi sebagian orang pasti dianggap basa-basi (padahal, sih, memang. Ho-ho). Aku bisa menghilang tak ada kabar selama beberapa minggu, dan saat kauganti Profile Picture, aku malah muncul dan seenak dengkul mencerocos ini itu. Aku bisa tiba-tiba menghubungimu untuk sekedar merepotkanmu, dan yang kaulakukan hanya ‘iya, apa yang mau dibantu’, bahkan tanpa perlu menanyakan aku ke mana, kenapa tak mengabari, dan kenapa baru muncul saat ada maunya aja.

Terimakasih, Hasian, untuk penerimaanmu.

Kau pasti masih ingat, kan, kalau ‘ke-alien-an’-ku bukan sesuatu yang kubuat-buat. Dia seperti radang di tenggorokan, yang muncul bahkan tanpa pernah disadari kapan dan kenapa. Kau pasti tahu, aku bisa mengurung diri dan menjaga jarak dengan siapa pun saat energiku habis. Rasanya aneh, tapi, setidaknya, aku sedang berusaha menguranginya. Ho-ho.

Gimana makanmu? Masih harus pilih-pilih? Masih harus membolak-balik lembaran menu, untuk kemudian yang kaupesan adalah makanan yang sejak awal kaupilih? Atau. Ta, masih ingat, kan, meetup pertama, kaunaik KRL, kau turun di Pondok Ranji, dan kujemput nggak jauh dari stasiun. Setelahnya, kita jalan. Pertanyaan pertama kita: sudah makan? Mau makan apa? Kelak, setelah malam itu, aku tahu, pertanyaan paling sulit di dunia selain ‘kapan nikah?’ adalah ‘mau makan apa?’. Iya, Ta. Seriusan. Pertanyaan paling tabu di dunia adalah menanyakan ke kau ‘mau makan apa?’

‘Mau makan apa?’

‘Di sini, kalau mau makan enaknya di mana?’

‘Di Taman Jajan, sih. Kamu mau makan apa?’

‘Apa, ya?’

‘Ayam?’

‘Bosan, masa makan ayam mulu,’

‘Nasi goreng?’

‘Yah, ga enak,’

‘Ikan?’

‘Ga, ah, banyak durinya,’

‘Mie?’

‘Jangannn,’

‘Capcay?’

‘Di Semarang makan capcay, masa di Jakarta pun makan capcay lagi,’

‘Jadi maunya apa?’

‘Yang enak apa?’

‘Ayam?’

‘Bosan, masa makan ayam mulu. Nggak ga ada yang lain, yang enak?’

‘Kamu maunya apa?’

‘Terserah,’

‘Terserah, kecuali ayam, nasi goreng, ikan, mie, capcay, dan sederet makanan yang ga kamu suka?’

‘He-he-he. Aku ga bisa sembarangan makan, soalnya,’

‘Oh,’

Dan ingat pada akhirnya kita makan apa? Bubur ayam. Ralat. Bubur pakai setengah daging ayam. Iya, ayamnya kauoper setengahnya ke mangkukku, nasinya juga.

Yang lebih rumit dari aku, ternyata pilihan makanmu. Tapi, kalau kau bisa menerimaku sepaket dengan ‘alien’ di dalam diriku, kenapa aku ga bisa menerimamu sepaket dengan ‘makan apa aja terserah, kecuali ayam, nasi goreng, ikan, mie, capcay, dan sederet makanan yang ga kamu suka’ kamu.

Sehat selalu, ya. Semoga lancar seleksi The Best Student of The Year. Semoga berhasil dengan paduan suaramu yang ke—mana, Ta? Ke—djdaisdjaldjlasjdlsjd? Iya. Itu ngasal. Aku lupa haha. Kau kan tahu sendiri aku sering melupakan banyak hal. Ho-ho.

May the Peace, Love, Faithful and Joy of Christ live in you forever—pesan terakhir di WA-mu untukku.

Tertanda: Hasianmu

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*