Surat #493 Celia

Teruntuk: Celia

Cel, percaya, gak, kalau kubilang, first impression malam pertama kita ngobrol dari freecall: personalitasmu saat berbicara dan menggunakan kata mirip aku–kira-kira beberapa tahun lalu.

Saat berbicara, kamu membicarakan sesuatu secara berputar-putar kepada lawan bicara kamu, menggunakan cara yang rumit, hanya untuk menyampaikan satu hal, yang sebenarnya sederhana.

Saat menggunakan kata, kamu sangat berhati-hati, menggunakan kata setepat mungkin, untuk membuat lawan bicaramu nyaman.

Disamping itu semua (impresimu yang seakan sangat terbuka dengan obrolan apa pun itu dan siap untuk menjadi pendengar yang paling baik di dunia), sebenarnya, entah kamu sadar atau nggak, kamu sedang berbicara dengan seseorang sambil menjaga jarak. Kamu nggak hanya menjaga jarak, Cel, tapi, kamu juga membangun tembok tinggi dan kokoh yang menjelma sebuah kastil. Kamu ramah,  dan menjaga jarak, dalam waktu bersamaan. Nggak capek, Cel?

Ingat obrolan pertama kita? Awalnya aku merasa seperti berbicara dengan diri sendiri, karena, bisa dibilang, aku hapal apa yang akan kamu sampaikan di obrolan berikutnya. Alasannya sederhana, aku pernah menjadi alien itu.

Belakangan, aku merasa, ternyata kamu lebih mirip mantan pacarku. Dia wanita yang setipe kamu. Dia tahu bagaimana caranya menyembunyikan tangisan dan menjadi seolah kuat dalam satu waktu bersamaan. Dia tahu bagaimana harus tersenyum saat kami berbicara berdua, bibirnya akan tertarik seolah bahagia, dan lesung pipinya selalu berhasil meyakinkan siapa pun yang sedang berbicara dengannya bahwa: aku baik-baik aja.

Sebelum kami memutuskan untuk sama-sama berpisah, dia cerita tentang beberapa traumanya. Berhubungan dengan cowok, memang. Di masa lalunya. Kamu mempunyai trauma yang sama, Cel?

Kalau iya, aku hanya mau bilang, kadang, dalam hidup, kita akan bertemu dengan seorang bangsat sebelum akhirnya bertemu dengan orang yang tepat. Kamu sudah bertemu dengan si bangsat itu, Cel? Kalau iya, berarti sekarang, barangkali, kau sudah bertemu dengan orang yang tepat.

Aku tahu Altair. Kami pernah mengobrol beberapa hal. Kami punya pemikiran yang mirip. Aku suka caranya berpikir dan menyampaikan sesuatu. Dan saat aku tahu, kalian berdua sedang dekat, aku senang, Cel, karena itu artinya kau tidak akan bertemu dengan bangsat, dua kali. Jangan terlalu lama bersembunyi di kastilmu, Cel, coba palingkan wajahmu ke luar kastilmu, dan cobalah untuk mulai percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Nggak mudah, tapi bukan berarti mustahil.

Tapi.

Itu hakmu, tentu, buat memutuskan, apakah akan menjadi putri salju di dalam kastil imajineri yang kamu bangun sendiri, atau menjadi Rapunzel yang mengulurkan rambutnya, belajar untuk percaya, dan menyambut pangeranmu. Semoga kalian bisa saling mengenal dengan lebih baik, Cel, dan semoga kalian adalah dua orang yang saling mencari untuk kemudian saling menemukan satu sama lain.

And, Altair, Mate, thanks for everything, glad to know you. Let meet in the future, enjoying some drinks :))

Tertanda: Oom-nya Kamu

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*