Surat #492 Ba-Boo! Si Wanita Lemot yang Suka Nyaru

Teruntuk: Ba-Boo! Si Wanita Lemot yang Suka Nyaru

Hai, Boo!

Apa kabar? Baik, kah? Semoga kamu baik selalu, ya. Sebelum kamu melanjutkan membaca surat tidak berfaedah dari aku ini, aku peringatkan, ini bukan surat cinta dengan penuh sajak menggulana, bukan pula surat cipika dari seorang pengelana. Ini hanya surat biasa dari seorang laki-laki yang sedang ingin meluapkan kerinduannya kepada kamu hari ini.

Boo, aku adalah seorang anonymous user yang sudah main aplikasi Saya ini sejak namanya masih Hoomn yang masih ingat postingan pertama kamu “F18, baru tau aplikasi ini ada di muka bumi ini dari temen tadi pagi.” Dari tulisan sederhana itu, aku dengan segala keisenganku membalas postinganmu di fitur pesan pribadi “Hai, selamat datang” dan kamu dengan kecepatan dan kebawelanmu lalu membalas “Wahhh iya” “Makasih Non”, lalu seiring berjalannya waktu kita berchit-chat ria di Saya dan akhirnya setelah beberapa hari kita semakin intens chat basa-basi lalu aku ajak kamu untuk move ke Line, untungnya kamu mau, dan sejak saat itu aku baru sadar bahwa aku rasa aku mau kamu. Mau kamu? Terdengar terlalu frontal mungkin, tapi memang benar, aku mau kamu.

Boo, masih ingat kan? Dulu aku ini anonymous tapi levelku sudah mencapai angka 40-an. Masih ingat kan? Saat pertama kali move aku sudah semakin berani bertanya dimana kamu tinggal, dimana kamu kuliah, dan pertanyaan perkenalan basa-basi lainnya yang akhirnya kita menjadi tahu bahwa ternyata rumah kamu itu dekat denganku dan ternyata aku adalah Kakak dari teman lamamu. “Sempit amat yak dunia” katamu. Padahal bukan dunia yang sempit menurutku, tapi memang pertemuan kita itu sudah didesain oleh Tuhan agar kamu dan aku menjadi tahu, bahwa setidaknya dibalik keisenganku dan keingintahuanmu kita dapat bertemu dan menjadi teman. Ya, hanya sebatas teman, hehe.

Dulu, saat sudah semakin intens chat, akhirnya aku ajak kamu bertemu. Untungnya lagi, kamu mau. Aku jemput kamu dengan Vespa matic putih kebanggaanku dan tidak lupa menyemprotkan secukupnya parfume merk Calvin Klein ke kemeja Ralph Lauren-ku. Dengan pede-nya aku menjemputmu dipersimpangan jalan dekat rumahmu.

Pertama kali kulihat dari jauh, sosok dengan tubuh mungil dan rambut panjangnya yang terurai halus bagai menari-nari itu mendekatiku. Dengan balutan kaos abu-abu muda yang senada dengan celana denim hitam dan sepatu flat yang kamu kenakan, kamu sapa aku dengan senyum manismu. Ternyata kamu pakai kawat gigi ya, Boo? Padahal gigi kamu sudah lucu seperti kelinci tanpa kawat itu. Tapi, tenaanglah, kamu tetap cantik dan mempesona dimataku.

Pertama bersama aku ajak kamu pergi ke kedai roti bakar dipinggir jalan. Kamu hanya memesan hot chocolate tanpa memesan makanan berat yang lain dengan alasan “enggak laper”-mu itu yang selalu aku dengar setiap kali aku ajak kamu makan atau aku tawari membwakan makanan kerumahmu. Boo, apa masih suka pakai alasan itu kalau ada laki-laki yang berusaha modus ke kamu? Hehehe.

Setelah pertemuan itu, akhirnya kita semakin dekat. Kamu yang jam 3 pagi telpon aku ngajak ke McDonalds Cuma karena bm McFlurry, kamu yang jam 11 malam minta dijemput didaerah Panahan Senayan karena kamu bosan bergumul dengan temanmu disana, kamu yang sore-sore kirim foto selfie ke aku via Line dengan caption “capek gue anjerrr kelas dari pagi gak kelar2”, kamu dengan segala keunikan dan kebawelan yang mengisi hari-hariku selama kurang lebih hampir 3 minggu itu lalu kamu menghilang tiba-tiba. Iya, menghilang begitu saja.

Boo, sudah ingat aku siapa? Sudah tahu aku siapa? Saat ini, ditemani oleh sebuah laptop dan secangkir Chocolatos di sampingku, aku menulis surat ini untuk kamu. Setelah sekian lama aku mencari-cari kamu di aplikasi Saya, aku menemukan sosokmu belum lama ini. saat melihat komentarmu di salah satu postingan user disana aku semakin yakin itu kamu dengan username “Boo” dan foto profilmu yang menunjukkan sebelah matamu yang selalu aku hafal itu. Walaupun berkali-kali kamu mengganti username-mu menjadi Ba-Boon!, Tebak hayo gue siapa, Gue gak cantik tapi ganteng, dan terakhir saat aku menulis surat ini kamu menggunakan username Ba-Boo! akhirnya terketuklah hatiku untuk membuat surat ini, bukan surat cinta, hanya surat biasa dari seorang aku yang merindukan kebawelan dan kelemotan kamu yang pernah mengisi hariku, hanya surat biasa dari seorang aku yang berharap kamu akan selalu bahagia dan baik-baik saja walaupun kamu tiba-tiba menghilang dariku tanpa menjejak asa.

Akhir kata, maafkan kelancanganku menuliskan kalimat demi kalimat ini yang aku susun tanpa struktur, yang aku geluti hanya dari apa yang keluar dari pikiran dan hati ini. Bahagia selalu ya, Boo. Jangan nakal. Jangan suka bm macem-macem pagi buta lagi. Aku rindu kamu, selalu!

Tertanda: Anonymous Biasa yang Sekarang Sudah Uninstall Aplikasi Saya

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*