Surat #468 Pina

Teruntuk : Pina

Hai, Pin.

Masih tidur ya? Semalem jadi nugas?

Pina, udah dua tahun kita kenal, dan gue belum pernah nulis gini-ginian buat lo, ya?

Pin, tau nggak? Lo salah satu dari dua sahabat gue, loh. Terima kasih, ya, Pin, sudah mau jadi sahabat gue selama ini. Terima kasih sudah selalu mau nemenin gue makan, beli kuota ke Tembalang, udah mau nemenin gue tidur di kos, atau gue yang nginep di kos lo.

Pin, bosen nggak selalu dikira adik-kakak sama gue kalau pergi ke mana-mana? Hahaha.

Pin, masih inget nggak? Kita pernah ke Solo naik motor berdua doang? Hahaha! Habis itu kita ke Jogja, dan Klaten. Inget nggak, kita pernah jalan jauh banget, dari hotel, buat nyari ATM? Inget nggak, kita pernah makan seafood sama mantan gebetan lo yang anak UAJY, sampe lo nyewa mobil segala, bahahaha.

Masih inget, nggak, Pin, lo pernah nangis pas kita sama-sama nginjekin kaki kita di puncak Lawu? Lo takut naik gunung, tapi gue ngeyakinin lo, dan lo percaya sama gue, walaupun di perjalanan ke Tawangmangu, lo jatoh di Solo. Terima kasih ya, Pina, sudah mempercayai gue waktu itu. Yang perlu lo tahu tentang gue, menurut gue kepercayaan itu adalah harga yang sangat mahal, jadi terima kasih sudah memberikan kepercayaan itu, ya, Pin. Dan meskipun puncak Lawu sampai 5 derajat waktu itu, tapi kita tetep sama-sama melangkahkan kaki kan, Pin? Mantap!

Pin, terima kasih, ya, sudah ngajarin gue banyak hal, satu hal yang gue pelajarin dari lo, lo adalah orang yang kuat, Pin. Lo pernah pergi ke Rumah Sakit waktu mau operasi pas kelas 8 SMP, gila, itu hebat, Pin, sementara keluarga lo yang lain di Sorong. Ada yang bilang sama gue kalau lo orang yang manja, but, no, lo adalah salah satu orang yang kuat yang gue kenal.

Terima kasih ya, Pina, sudah mau anter gue ke IGD pas malam-malam. Tahu nggak? Gue pasang nomer lo di speed dial HP gue. Karena gue tahu, Tuhan bakalan selalu menolong gue lewat lo. Memang gue  nggak kayak, Dinda, yang pas dia pingsan, pacarnya langsung datang. Tapi Tuhan kirimkan sahabat yang baik buat gue, yaitu lo.

Pina, ada yang mau gue kasih tahu sama lo.

Berdamailah dengan keadaan, Pin. Dia sayang banget sama lo. Lo tahu kan? Terbukti, dia sayang sama lo. Dia selalu mengutamakan lo, Pin. Memang hati nggak bisa dipaksakan, tapi gue tau lo bisa mencobanya, kan? Coba buka hati lo, Pin, coba maafin dia yang dulu pernah nyakitin lo, Pina. Dia sayang banget sama lo. Coba ya, Pin?

Terima kasih sekali lagi, sukses untuk rencana S2nya ambil profesi Psikolog ya, Pin. Gue yakin lo bisa! Jangan lupa berdoa ya, kalau bangun sama sebelum tidur.

Tetap menjadi sahabat gue ya, Pin. Inget mimpi kita buat main truth or dare pas di Roma nanti, kan, Pin?

Now, lemme impersonate yourself.

“Heh, mulutnya, ya! Saru kamu!”

“Nggak ah, aku capek.”

“Aku mau pulang, mau tidur.”

“Aku sayang sama dia tapi hanya sebagai temen.”

“Hai, Nak.”

“Sini, Nak, peluk Mamak.”

“Inanggggg!”

“Beklah, Nak.”

“Tolong ajarin aku main gitar dong.”

“Aku mau nyuci.”

“Makan ayam mulu.”

“Nggak usah dipikirin, lah”

“Heh, aku mau brownies.”

“Eh, aku beli jus apa ya?”

“Aku gendut banget.”

“Aku mau kurus.”

“Browniesku ketinggalan di kosmu.”

“Dasar kos miskin.”

“Jangan, kamarku berantakan.”

“Aku bawa Indomie.”

Favoritku adalah,

Nggak takut aku diomelin mamak sama bapakku, kalau diomelin ya udah, dengerin aja, kalau dipukul, yaudah rasain sakitnya.”  Padahal lo aja takut, masuk kelas, kalau dosennya udah di dalam. Wuuu! At the end, gue sayang Pina!

Tertanda : Kindness.

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*