Surat #434 Sapi Belang dan Supernova

Teruntuk: Sapi Belang dan Supernova

Anyway Oom, if you know me from the way I wrote this letter.

Hit me up mate. Like I said, this is a geat idea and here we are having something worth joining about.

Well, The thing caught my attention. Let’s make it a three way friendly talks, I won’t call it a discussion though.

Mengulangi kalimat Sapi “…tulisan yang bagus menurut gue akan menghasilkan bermacam-macam penafsiran…”, gue setuju dengan hal itu, begitu pula dalam lirik lagu atau karya seni apa pun, bagi gue, ketika dia bisa bermakna begitu banyak namun tetap kokoh, itu adalah sebuah karya yang bagus.

Relativitas, kata pertama yang muncul dalam kepala gue dalam tiap kali kesempatan untuk memahami sesuatu, apakah itu karakter, perbuatan, ataupun perkataan yang gue temui dalam kehidupan gue. Ini ironinya:

“Relativitas menafikkan kemutlakan, tapi relativitas sendiri adalah hal yang mutlak”

Kebenaran dan kesalahan itu hal yang nggak pernah ada definisi mutlaknya, beda waktu beda makna, beda tempat beda makna. Adakah hal yang terus selamanya jadi benar? Adakah hal yang terus selamanya jadi salah? Bahkan secara ilmiah dalam “Ilmu Pasti”, semua hal benar hanya sampai ada yang membuktikan sebaliknya.

Jean dan Amer yang bersikap sebagai eksistensialis, mempertanyakan Tuhan, dengan kata lain Theism bukan lagi unsur yang mereka perdulikan. Supernova dengan Theism dan kekecewaan atas umpatan-umpatan yang dirasa tidak esensial. Dan Sapi dengan common sense dan spekulasinya.

Gue akan bilang, kalian semua benar, YA! Benar dalam cara kalian memaknai kata “benar”. Artinya, kalian tidak memaknai “benar” secara seirama, kalian melihat dari sudut yang berbeda-beda, tapi kalian melihat hal yang sama. Kalian hanya melihat bagian yang berbeda.

Umpatan bagi gue adalah hal yang wajar bagi beberapa orang, dan jika itu wajar bagi mereka, pasti ada alasan mengapa. Kemudian, jika ada yang menganggap umpatan adalah hal yang seharusnya selektif dalam digunakan atau bahkan tidak seharusnya digunakan sama sekali, pasti juga ada alasan mengapanya. In the end, setiap hal pasti ada alasan yang melatarbelakanginya.

Ketika kita berkomunikasi, apa tujuan kita, sih? Memahami apa yang disampaikan, dan kemudian merespon. Cara berkomunikasi yang berbeda itu sudah ada sejak kapan? Kalian bisalah mencari tau sendiri dan menentukan sejak kapannya, karena the search for the oldest language is still going. Dan kadang kita lupa sama hal ini, bukan maksud yang ingin disampaikan yang jadi perhatian kita, justru hal-hal di lapisan luarnya yang jadi perhatian kita, akhirnya kita nggak berkomunikasi dengan baik. Biasanya sih kita sebut dengan “Salah Paham”.

Let’s not talk about the character of the person dulu, liat omongannya, jangan liat orangnya dulu. Sebegitukah pentingnya kita untuk melihat orangnya kalau yang kita mau tau adalah pikirannya?

Kalau kita coba kesampingkan riasan bahasa dan hanya mendengarkan maknanya, menurut kalian akankah pembicaraan kita berbeda?

Tertanda: Terminus

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*