Surat #408 Dia yang Install Hoomn cuma buat Lihat Levelku

Teruntuk: Dia yang Install Hoomn cuma buat Lihat Levelku

Sampai saat ini pun ada banyak hal yang tak terucap…… atau belum sempat terucap.

Hey! It’s been 4 month. Bukan waktu yang bisa dibilang singkat, dibilang lama juga nggak. Tapi percayalah, itu bulan-bulan tersulit yang pernah kulewati. Sebulan pertama yang penuh penyesalan. Tentang dosa-dosa yang kuperbuat, dan bagaimana caranya agar dapat kuhapuskan. Bagaimana caranya waktu dapat kuputar. Bagaimana caranya agar aku dimaafkan. Gagal. Khilafku fatal. Semua pernyataan maafku berbuah penolakan. Masih kucoba bangkitkan kenangan dulu…

“Baaa… Ekaget-kaget…” Kukirimkan monolog percakapan kita lewat pesan suara.

Sesekali kuselipkan nada sesenggukan.

“Udah dong, aku gak kuat. Aku bener-bener pengen lupa. Udah mau masuk kuliah, ntar nilaiku berantakan. Ngerti gak, sih!”

Masih penolakan. Sampai akhirnya kamu lelah, habis sabar. Usahaku berbuah blokir. Ha-Ha-Ha.

Bulan kedua, dengan sisa-sisa penyesalan, aku cuma bisa melihat kamu dari jauh. Dan benar, kamu jauh lebih membanggakan tanpa aku. Juara ini itu. Salut. Move on ternyata tak semudah teori. Tak semudah nasehatku pada teman yang dibodohi pria. Setelah jatuh, baru terasa ada kerikil. Baru terasa kerasnya tanah. Mereka bilang agar aku mengalihkan sakitku pada hal lain. Salah. Kenyataannya bahwa setiap sakitnya harus dirasakan, jangan dihindari.

“Buat apa capek-capek yoga kalo gak tau esensinya?” pikirku.

Sampai pada bulan ketiga. Aku masih sesekali terpikir untuk buka Instagram story, atau bahkan blog-mu. Bedanya sekarang, senyum yang terkembang, bukan lagi tangis. Kamu semakin lucu. Unboxing plastik Indomaret. Wanita mana yang tidak tertawa? Apalagi sereceh aku. Dan update-an gak–lucu–yang–malah–jadi–lucu lainnya yang gak bisa kuceritakan satu per satu.

Dan bulan keempat. Aku bahkan lupa pernah terluka. Tetapi aku juga lupa rasanya jatuh sedalam-dalamnya pada seorang pria. Mungkin belum benar-benar hilang rasa. Tapi tak apa, aku tak pernah menyesal perkara apa yang sudah aku alami. Jika pada bulan pertama aku berpikir untuk mengulang waktu, kali ini tidak. Tak ada yang aku sesali. Tentang semua permohonan bodohku, bisakan kita berdua jadikan itu lelucon terlucu dari seorang wanita berumur 23 tahun?

Mari tertawakan aku.

PS: Kalo ada “Ha-Ha-Ha” sesungguhnya beneran ketawa pas nulis.

Tertanda: Yang Merindukan Suara Tokek di Rumahmu

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*