Surat #395 Saturn

Teruntuk: Saturn

Jujur, aku tak pernah sesabar ini menghadapi seorang wanita.

Aku tak pernah sebijak ini dengan seorang wanita, aku tak pernah bisa berpura-pura dengan wanita ini. Sesosok anggun yang hampir nyaris hancur oleh dunia, aku selalu mengatakan itu pada dirinya.

Berawal dari keisenganku yang sedang teradiksi oleh gadget, aku mencari aplikasi di gadget-ku, yang bisa membuatku berinteraksi dengan dunia luar tanpa perlu tau siapa diriku. Aku yang sangat suka sekali menuangkan buah pikir nyeleneh-ku dan mempelajari kepribadian seseorang. Tak ada niatan untuk mengenal seseorang hanya sekedar bergurau lalu bertukar pikiran, hanya itu yang aku lakukan di aplikasi itu. Setelah bermain di aplikasi itu cukup lama aku terbawa arus adiksi interaksi dunia virtual. Ha-ha-ha-ha.

Berawal dari diriku yang sedang belajar bernyanyi, aku mencari pendengar dari situ agar aku bisa memutar lagi rekaman yang aku kirim untukku pelajari kekuranganku. Sering sekali aku bertukar id Line, namun tak ada satu pun yang lanjut menjadi sebuah obrolan, karena memang niatku hanya mencari pendengar. Tapi tiba-tiba timbul hasrat ingin mengenal seseorang dari aplikasi itu, lalu aku mencari yang umurnya mendekati umurku. Ketika aku mulai mengenal banyak user di situ, aku temukan seorang yang umurnya mendekati umurku. Mengapa saat itu aku memilih umur sebagai patokan? Entahlah. Sebenarnya dari awal mula aku memulai obrolan dengannya aku sudah tak ingin melanjutkan, namun diriku yang tak tegaan memaksaku untuk terus melanjutkan. Akhirnya kami bertukar id Line dan nomer telepon. Penuh keterpaksaanya diriku melanjutkan sesuatu yang tak sesuai dengan diriku. Yang tak kusangka, setelah beberapa hari berkenalan via telpon dan chat, dia mengatakan jika dia suka padaku. Aku terheran-heran, mengapa dia bisa mengatakan itu, apakah user di situ seperti itu semua? Jika aku adalah kebahagiaan untuknya, belum tentu dia adalah kebahagiaan untukku. Jadi aku putuskan untuk menyudahi perkenalan dengan dirinya seminggu kemudian. Ternyata umur belum tentu menjadi patokan seseorang itu dewasa atau bisa membuat dirinya lebih baik.

Trauma untuk mengenal lawan jenis, kembali muncul. Saat itu, genap sudah setahun aku tak pernah mau mengenal wanita di hidupku. Pikirku, ya sudahlah, aku jalani hidupku yang sedang berharap pada Tuhan yang akan memberikan semangat baru untukku.

Aku mulai lagi bermain di aplikasi itu, dan tak pernah mau memikirkan apa pun. Hanya bermain, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang mencuri perhatianku. Membuatku benar-benar memperhatikan user itu dan berkata pada diriku “Ayo kita coba mengenalinya, mungkin ia yang kamu cari.” Ketika diriku sudah berkata seperti itu, aku memulainya bukan dengan private chat, tapi membuat post yang bisa dilihat banyak orang kalau aku benar-benar ingin dirinya. Ketika dia memberikan komentar di post yang kubuat, di situ aku memulai percakapan dengannya.

Percakapan paling aneh yang pernah kulakukan dengan manusia, penuh intelektual dan penuh dengan imajinasi. Tanpa sadar dia membawaku ke masa kecilku. Dimana tanda tanya tentang hidup dan imajinasi tentang sesuatu hal sangat amat menarik. Yang perlahan kulupakan ketika aku beranjak dewasa. Ternyata ia tak pernah ingin orang mengenal dia lebih jauh ke dalam kehidupan pribadinya. Berhari-hari, setiap aku bertemu dia di aplikasi itu, selalu kutanyakan kontak pribadinya, dan ia selalu menemukan cara untuk berkilah dari pertanyaanku. Tanggal 20 Februari 2017 menjadi hari keberuntunganku karena akhirnya dia memutuskan untuk membuat Line baru untuk berkomunikasi denganku, sangat-amat aneh, kan?

Aku dan dirinya selalu bercerita di chat atau di telpon. 1000 menit mampu kami habiskan dalam sehari. Bahkan balasan chat dari dirinya selalu kutunggu dan aku selalu mengabaikan notifikasi lain. Ya, hanya dirinya yang kutunggu di gadgetku.

Aku yang tak pernah mau atau pun ingin bertemu dengan orang lain saat itu, akhirnya merasa harus bertemu dengannya, walaupun keterbatasan kian menjadi penghalang untuk diriku. Sampai pada akhirnya tanggal 13 Maret, kami akhirnya memutuskan untuk bertemu. Ia adalah wanita pertama yang kutemui dari aplikasi itu, aku masih menjaga jarak dengannya untuk tau dirinya lebih jauh. Siapa dan bagaimanakah ia, ia mengatakan memiliki lima lapis cover dan aku yang ingin tau bagaimana dia meng-cover dirinya sehebat apakah dia membuat cover itu.

Semakin dekat dan akhirnya timbul sebuah rasa. Genap sebulan kami berkenalan, rasaku tak terbalas dan tanpa sadar ia membuat hancur hatiku. Tak mengapa aku harus sadar diri, sepertinya aku tak pantas untuk dirinya. Memang sakit, tapi itu sudah resiko ketika jatuh cinta.

Aku yang sudah pernah melewati rasa ini, berulang-ulang untuk mencari belahan jiwaku. Karena jika aku mampu menemukan belahan jiwaku, imbalanya sangat sepadan, sakit hatiku hanya sesaat di dunia, namun belahan jiwaku yang mampu membuatku bahagia dunia akhirat.

Kebiasaanku, ketika aku sudah tak ada harapan, pasti aku pergi dari hidup orang itu. Namun, entah kenapa, aku tak bisa melakukannya pada dirinya. Seperti ada yang harus aku temukan, tapi aku tak tau itu apa. Pertemuan ketiga menjadi moment paling berharga untuk diriku. Menikmati malam dengan hangatnya whiskey. Lalu, hal yang sama-sama kami sukai tiba-tiba datang, yaitu hujan. Hadiah kecil dari semesta untuk kami berdua yang mengaguminya. Tanpa pikir panjang, kami segera berada di bawahnya menikmati tiap tetes air hujan yang turun.

Aku benar-benar melihat kebahagiaan di wajahnya tanpa ada kepalsuan yang dibuat-buat, lalu Mama menegur, dan kami memutuskan untuk pergi dari rumah, dan berkeliling untuk menikmati malam. Memberitahunya tentang suasana dunia malam yang pernah kuceritakan, perbedaan antara suasana lokalisasi dan pasar di pagi hari. Sangat amat indah dengan cara yang sangat amat sederhana.

Di pertemuan keempat, sesuatu yang tak terduga muncul. Aku yang sedang menikmati hari, tiba-tiba harus dikagetkan dengan tangisan darinya, tangisan yang tak pernah bisa hilang dari ingatanku, terekam dengan sangat-amat jelas dan begitu nyata.

Jiwa yang memutuskan untuk keluar dari tekanan yang diberikan. Berteriak meminta tolong karena permainan dunia dan ilusi cinta. Meronta-ronta karena dunia perlahan menghancurkannya tanpa disadari.

Aku hanya menatap langit-langit bengkelku, tempat ia mengeluarkan semuanya. Dalam hatiku berkata “Mungkin ini yang harus kutemukan.” Dan diriku berjanji akan membantu dengan keterbatasan yang aku miliki.

Memang diriku tampak tak meyakinkan, namun usahaku yang akan membuktikannya.

Dia tak akan pernah sadar dengan apa yang sudah kulakukan untuk membuat dirinya kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala. *Kata Sheila on 7, sih, gitu*

Dia juga tak kan pernah sadar, walaupun hatiku sudah hancur menjadi debu, namun dia tetap memberikanku goresan-goresan kecil.

Tapi sungguh tak mengapa, aku pun heran mengapa aku bisa seperti ini.
Walau kami sudah memutuskan untuk berpisah secara baik-baik dan akan kembali bertemu di satu hari nanti, tapi kita tak pernah bisa melakukan hal itu.
Mungkin sekarang ia mulai mengerti.

Bahkan di hari itu, dia yang mengucapkan sendiri “I’m piece of you.” Aku sudah meyakini hal itu, tapi keyakinan dirinya tak seperti keyakinanku.

Aku yakin, bersamanya aku pasti bisa jadi lebih baik, dan bersamaku dia pasti bisa jadi lebih baik. Aku yakin, bersamanya aku pasti bisa menjadi elegant dan bersamaku dia pasti bisa menjadi anggun.Aku mengerti sejauh ini karena memang aku pelajari baik-baik. Hal ini tak mudah, oleh sebab itu, aku terus belajar menjadi bijak karena aku harus bisa menerima segala kemungkinan yang terjadi. Yang terpenting, saat ini aku hanya ingin dia kembali untuk bersinar dan berpijar seperti dulu kala seperti saat dia belum mengenal dunia.
Ya, orang satu. Ya pasti sama.”

Timeless clue yang dia ucap sendiri.

Tertanda : John Michael Bubblegum

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*