Surat #394 Guru besarku, Jiwaku, dan Semangatku

Teruntuk: Guru besarku, Jiwaku, dan Semangatku

Hai, surat ini aku buat pukul 17.15, 15 menit lagi mau latihan. Ha-ha-ha.

Aku cuma mau mengucapkan banyak terima kasih kepadamu. Banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil, selama hampir dua tahun kita kenal. Setiap hari kita ketemu.

Banyak yang nanya sama aku, “Apa kamu nggak capek setiap hari latihan?” Jawabannya, capek.

Aku capek setiap hari harus latihan dari jam enam sampai sepuluh malam, jujur, aku capek, ini udah masuk bulan-bulan aku eneg banget latihan dan ngelihat partitur. Kamu kira gampang nyanyi lagu jaman renaissance setiap hari? Emang kamu kira nada fi, sel, sa, ri, di, itu gampang? Emang gampang nyanyi dengan delapan suara dan nyanyi lagu yang susahnya minta ampun? Udah bosen banget ngelihat not balok, Brengsek.

Kamu membuat waktuku berkurang drastis, aku jadi nggak punya waktu untuk baca-baca Supernova dan buku-buku kuliahku, dan aku jadi nggak punya waktu buat nongkrong. Kamu ngebuat aku menyingkirkan kegiatanku yang lain, cuma buat kamu, kamu membuat aku rela untuk menghabiskan waktu, tenaga, bahkan uang dan pikiranku, cuma buat kamu.

Aku capek buat nyari dana buat kamu. Aku ngantuk, tadi pagi udah harus ke pasar buat ngambil jajanan untuk dijual dan uangnya buat kamu.

Tapi, aku bangga bisa jadi milik kamu. Aku nggak tahu kalau dua tahun lalu aku nggak melangkahkan kakiku buat ikut audisi, aku mungkin tidak akan seperti ini. Tapi aku juga nggak tahu kenapa aku bisa masuk. Padahal asal-asalan, mungkin waktu itu Tuhan sedang memasuki jiwaku. Kalau aku nggak datang waktu audisi waktu itu, aku jadi nggak tahu rasanya perjuangan dan pengorbanan. Aku juga nggak tahu kenapa aku mau mengorbankan semuanya buat kamu.

Masih ingat? Aku pernah jagain salah satu dari kamu di ruang IGD, dan di kamar rawat inapnya? Aku mau ngelap muntahnya, kotorannya, bahkan aku malam-malam nyari pempers buat dia? Aku jagain dia semalam suntuk untuk berjaga-jaga kalau-kalau dia mau muntah atau ke kamar mandi? Aku nggak tahu kenapa aku mau ngelakuin semua itu, bingung aku juga. Apa dia pacarku? Bukan. Apa dia saudaraku? Bukan. Tapi aku ingat, dia pernah mau nganter aku jam dua pagi ke stasiun. Dan dia itu kamu, kamu itu dia, kamu juga aku, berarti aku itu dia, aku merasa melakukan semuanya untuk diriku sendiri.

Aku berencana untuk pergi tahun depan, tapi aku bingung, apa aku bisa? Atas semua yang kamu kasih ke aku? Nggak bisa!

Guru Besarku, perjuangan kita belum selesai, masih ada sekiranya lima bulan lagi waktu kita bersama, masih ada waktu yang harus kita tebus bersama untuk berjuang menapaki kaki kita bersama di Eropa. Nggak pernah ada sekalipun terbesit di pikiranku kalau di umurku yang keduapuluh ini, aku akan menapakan kakiku di Eropa, apa lagi aku ke sana bawa nama kamu, dan bawa nama Indonesia. Buset, nggak pernah. Tapi rencana Tuhan emang selalu lebih daripada apa yang kita pikirkan.

Semangat ya, Sayangku. Masih ada lima bulan lagi. Walaupun aku capek, bosen dan eneg untuk ketemu kamu setiap hari. Tapi aku nggak bisa ninggalin kamu, semua kenangan kita yang kita buat selama kurang lebih dua tahun ini, lebih dari segala rasa capekku. Terima kasih Guru Besarku, kamu sangat banyak mengajarkanku banyak hal, aku bangga punya kamu! #ForzaGratia

Tertanda : Kindness.

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*