Surat #380 Seorang yang Kupanggil Car

Teruntuk: Seorang yang Kupanggil Car

Surat Terbuka.

Hello, Ma Car!!!

Sebelumnya, akan kuberitahu padamu, bahwa malam ini aku begitu merutuki diriku sendiri. Setelah pesan rindu yang kukirim dengan penuh emosi, kini aku mengirimkan pesan yang entah untuk membacanya pun mungkin kau tak sudi.

Car, apa kabar? Sudah makan? Jangan telat makan, Sayang. Semalam begadang lagi? Kumohon, jangan begadang setiap hari. Aku tahu bahwa rangka-rangka gedung itu menyita waktu tidurmu. Tapi kumohon, tidurlah secukupnya.

Hmm, Car, aku ingin memberitahumu satu hal. Ah, tidak, mungkin beberapa hal. Kenapa aku harus memberitahumu lewat surat ini? Ya, kau benar, Car. Kini gengsiku menguasai. Setelah kejadian yang membuatku sadar bahwa aku bukanlah satu yang kauinginkan, gengsiku berhasil mengalahkan.

Car, aku tak pernah ingin dan sedikit pun tak pernah berpikir bahwa aku akan mengirimkan tulisan semacam ini. Namun aku kalah, Car. Bimbangku menuntunku untuk menuliskan segala tentangmu. Aku berjanji, ini yang pertama dan terakhir kali. Kelak, takkan kautemui aku dengan segala tulisanku, entah untukmu atau siapa pun itu.

Yang pertama, perihal “Apa yang lu kangenin dari gue?”

Kautahu, Car? Aku sudah menuliskan lebih dari dua paragraf hanya demi menjawab pertanyaan singkatmu itu. Namun sekali lagi, gengsiku menguasai. Hingga dengan sarkasnya kubalas “Nanya mulu lu kek, Dora.” Car, tahukah kamu bagaimana aku merindukanmu? Kamu dengan setiap konyol tingkahmu, sungguh aku rindu.

Aku rindu, Car. Rindu di saat kau spam telepon via freecall Line untuk sekadar menanyakan sudahkah aku pulang? Rindu di saat kau meneleponku malam-malam. Rindu saat kau begadang dan menemaniku mengerjakan segala sesuatu. Rindu saat kau selalu membangunkanku. Rindu saat kau menjadi orang pertama yang berbicara denganku setelah kuakhiri tidur malamku. Rindu dengan segala gombalan menyebalkanmu. Iya, Car, aku rindu. Aku rindu semuamu. Aku rindu segalamu. Iya, semua tentangmu, sungguh aku rindu.

Yang kedua, apakah kesalahanku saat aku berkata bahwa aku takkan pernah mungkin baper virtual denganmu? Apakah itu menjadi salah satu alasanmu, Car? HA-HA-HA! Kuberitahu satu hal, Car, aku memang susah untuk merasakan sebuah kebaperan yang virtual, namun padamu aku nyaman, Car. Ya, aku nyaman. Dan rasa nyaman itu bahkan bisa lebih berbahaya dari rasa cinta. Kukatakan sekali lagi bahwa rasa nyaman itu bisa lebih berbahaya dari rasa cinta. Aku begitu nyaman hingga saat kau minta untuk melakukan permainan ToD pun aku iyakan. “Just a momentToT,, deh. Ga aneh-aneh, kok”. Dan itu pertama kali aku menuruti hal semacam itu, ha-ha-ha.

Entah kenapa, percakapan kurang dari 30 menit via telepon nomor beda operator itu membuatku mengiyakan saat kau meminta Lineku. Mungkin semua ini memang salahku, Car. Harusnya setelah 30 menit itu, setelah pulsa XL-mu habis karena nomor Indosatku, harusnya aku mengakhiri private chat kita. Harusnya aku tak menganggap kau lelaki baik-baik. Harusnya aku tak membiarkan kita bertukar Line. Harusnya aku dan kamu berhenti sampai di situ. Ya, harusnya begitu. Tapi aku bodoh, Car. Aku tak tahu bahwa untuk membuatku nyaman, bisa kaulakukan.

Aku masih ingat sekali perbincangan pada hari itu. Di saat kau bertanya aku di mana, di saat kau berkata “I miss you” untuk pertama kalinya. Di saat kau bercanda menggodaku “Aku pulang nunggu disuruh kamu pulang.” Dan dengan isengnya aku jawab “Pulang, Car. Temenin gue biar bisa tidur.” Lalu dengan cepatnya kau meneleponku. Membicarakan ini itu, dan diakhiri dengan permintaanku untuk kaubangunkan dini hari. Ah, sial. Aku rindu lagi.

Baiklah, aku mengaku kalah. Dan kau pasti tahu, bahwa uring-uringanku beberapa lalu itu karenamu. Karena aku cemburu. Ya, aku cemburu! Karena aku bertanya, kenapa bukan aku? Karena aku bertanya, kauanggap apa aku? Karena aku bertanya, bagaimana bisa setelah apa yang selama ini kaukatakan padaku? Maaf, Car. Semenjak kejadian itu, aku berubah menjadi wanita jahat. Maaf jika aku menjadi seorang yang tak kaukenal. Maaf jika dalam emosiku, aku mengatakan hal-hal yang tak seharusnya aku katakan. Kau boleh membenciku. Kau boleh ngomel dan ngebacot apa pun. Asal jangan diam, Car. Asal jangan mendiamkanku. Tahukah kamu bagaimana perasaanku pada hari itu? Entah kenapa, sakit, Car. Tak pernah aku rasakan perasaan sebegitunya selama aku berkelana bermain di dunia kevirtualan ini. Hanya saat bersamamu, Car. Ya, hanya denganmu!

Ketahuilah, pada hal-hal lain bosanku menguasai. Namun padamu, aku jatuh hati. Sungguh aku begitu memercayaimu. Bahkan hingga kini. Hingga saat aku merasa sakit hati, aku masih di sini. Kaukira aku bersungguh-sungguh saat kukatakan aku takkan peduli? Kumohon jangan sebodoh itu, Car. Sesungguhnya aku ingin baik-baik saja. Bercengkerama denganmu seperti semestinya. Kembali seperti dulu seperti seharusnya. Sesungguhnya aku ingin sekali berkata ya, namun tiada pintamu datang lagi kepadaku. Aku begitu senang Car, saat kau bilang “Demi Allah, gue sama si itu juga virtual.” Ya, entah kenapa aku senang. Namun aku sedih, Car, sepenggal tanya menggantung pada bibirku. Jika memang begitu kenapa kau tak bisa kembali padaku seperti dulu? Demi Tuhan, Car, aku takkan bahagia melihatmu bersanding dengan wanita yang selain aku.

Ah, Sudah ya, Car, hehe, aku lelah. Lelah mengetik surat ini. Lelah berharap kau kembali. Lelah akan segalanya. Kelak, jika kaudapati surat ini, maka saat itulah kautahu betapa sakitnya seorang wanita yang sendirian jatuh cinta di dunia maya. Kelak, saat kau membaca surat ini, kau akan tahu bagaimana aku merindumu. Jangan lupa perihal lima tahun kita. Perihal menaklukkan Semeru. Perihal gambar wajahku. Ya, jangan lupa bahwa kau berhasil membuat nyaman seorang wanita seperti aku.

Yang terakhir, aku akan menurutimu lagi. Aku akan berhenti membohongi diri sendiri. Kali ini kukatakan, padamu aku jatuh hati!

15 Mei 2017

Tertanda: Wanita Lima Tahunmu

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*