Surat #383 God, Sir, My Lord, Allah, Yahweh, Jesus, or Who-Ever-You-are

Teruntuk: God, Sir, My Lord, Allah, Yahweh, Jesus, or Who-Ever-You-are

Hi, God.

We are Jean and Amer. We don’t know if heaven share the same time zone with us in Indonesia, but because we write this letter at 00.02 am, so, good morning.
We know we haven’t talked in a while, since we stopped believing in you or just don’t care about you, or let’s make it simple, we don’t have time to worship you. We still remember the way we prayed, but you can’t give us an answer.

Ini gue, Amer. Tuhan, karunia yang dipunyai tiap individu sejak lahir. Apa Tuhan kurang baik menghadiahkan rasa bahagia di dunia dan surga yang dijanjikan bila sesuai dengan apa maunya. Ah, Tuhan juga yang memberi kesedihan yang bisa tak berujung kepada manusia, menurunkan bencana sesuai kehendaknya, memasukkan kamu ke neraka dengan maha penyayangnya, dsb. Aku mungkin percaya soal sesuatu yang disebut—Tuhan, tapi nggak soal agama.

“Jadi lo percaya apa kagak, sih, Mer?”

“Gue dinamis.”

Hi, God,  it is Jean talking. You know who am I, because as the saying goes YOU KNOW EVERYTHING. How is Jesus and his mom, Virgin Mary? Jesus is sitting on your right side, right? But who’s sitting on your left side? Why? Why is he sitting on your right side, why not left? Ugh. Again, I want to know where you resided before you created heaven and earth? And God, you never even told us when you created the other planet. Ah ya! You created plants before the sun! And ugh, you said day and night was created before sun and moon.  How the hell there will be  day and night, without the earth orbiting the sun?

“Mer, gimana tumbuhan bisa fotosintesis, Mer? Mataharinya belom ada.”

“Nyambungnya ke manusia aja, Anjing. Ga semua orang bisa nyerna.”

“Ye, Anjeng. Sebagai punkers masa lo kagak tau fotosintesis!!!!”

Jean, setiap orang punya cara sendiri menyembah Maha Kuasa Tuhan, dia mungkin maha baik dengan kemahaannya, dia juga bisa maha kejam dengan kemahaannya.  Aku tidak mengerti apa yang benar dia kerjakan selama ini. Manusia menggunakan emosi untuk mencintai, bersenggama sepuasnya, welas asih, berkorban apa pun demi yang dia mau. Manusia juga menumpahkan darah sesama atas nama perintah, merampas materil, menjarah hak sesama dan juga memberangus ide yang berbeda dengan ego yang dipunya. Entah berbuat baik pun juga didasari oleh motif guna memuaskan hasratnya, motif terbentuk untuk memenuhi konsepsi kebahagiaan yang diinginkan. Berbuat semena-mena pun juga didasari motif, dan konsepsi kebahagiaan dari komunikator sebagai pemegang peralatan rohani dan jasmani.

“Giliran gua ngomong sama Tuhan, Njing.”

Why do you created that forbidden fruit to tempt Adam and Eve? Why do you created evil?

“Enak aja lo manusia kaga ada ujiannya.”

AH! Why didn’t you place your angels around that tree to prevent Eve from eating that shit fruit? And ugh, there over 5 millions hungry children, why the fuck can’t you feed those starving children? Ugh, fuck.

“Udah dibilang tentang manusia aja.”

Aku tidak mengerti manusia untuk memenuhi kebahagiaan atau egonya. peristiwa membentuk mindset manusia yang dipengaruhi oleh rasa batin. Pengikat waktu, tempat dan satu manusia dengan manusia lainnya sebagai objek. Setiap hari garis pertemuan yang tak sengaja membuat manusia memilih rasa apa yang cocok digunakan untuk manusia lainnya. Apa yang dikonsumsi dari peristiwa sebagai pembentuk awal pola perilaku manusia dengan manusia lain. Pola perilaku yang berubah karena perbedaan konsepsi antar manusia memicu perang batin, bisa berujung perang fisik. Peristiwa mendatang, rahasia waktu + ruang dan manusia hanya bisa memprediksi dan berharap. Apabila ekspektasi akan peristiwa itu berkesan akan dia kenang, apabila ekspektasi dari peristiwa itu tidak terpenuhi, manusia mencoba melupa walau goresan itu akan menjadi kanker, destruktif, korosif  sampai lebur jiwanya. Manusia mengkonsumsi dan menelaah maksud dari peristiwa, walaupun absurd untuk menemukan maksud kenapa bisa terjadi. Peristiwa membuat jiwa ini berkelana di Padang Pasir seperti unta yang menopang beban maksud. Peristiwa membuat jiwa ini menjadi singa tanpa rasa takut, tak ada beban atas peristiwa lampau. Klimaksnya, peristiwa akan melahirkan jiwa ini menjadi seorang bayi, putih suci. karena bayi adalah wadah yang siap diisi kembali, dengan mendobrak dogma terdahulu, dan terlahir sebagai pencipta baru.

Let’s make it simple, why you don’t come here, to our room, and tell us that we are wrong because we are asking for your existence. Fuck. Who are you? Lo kesepian, ya? Sebelum ada kita semua, lo sama siapa, sih? Lo se-kesepian itu sampe nyiptain kita?

ANSWER ME. DO WE NEED TO BE ON OUR KNEES IN ORDER FOR YOU TO HEAR US? Will you reply this letter via email, or just some kind of thinly veiled metaphorical sign? I have so many question.

Tertanda: Amer dan Jean

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*