Surat #368 ZE, Si Penjual Senja

Dear, My Caffeine..

Di perbatasan Kota Pelita, seirama langit dengan lembayung jingga yang merajai senja. 12 Mei 2017 kutulis surat ini, teruntukmu, Ze. Menghantarkan segala rasa yang mengerat kuat dengan lekatnya dalam serambi nadiku. Bertepatan dengan gerimisnya angkasa yang mengembun di kaca-kaca jendela, kuarahkan pandangan keluar, meraba kebisingan satu-dua roda yang berlalu-lalang sambil melamunkan siluetmu dalam heningnya netraku yang sesekali mengedip. Kau indah, Ze! Dalam setiap literature yang kaugagas, pun pada setiap sajak rusak yang kucipta. Sayangnya, mengapa harus ada jarak di antara kita?

“Ze, sedang apa?”

Berkali-kali tanya itu menghantui benakku, membuat diriku harus berulang kali menge-chek isi private chat kita, namun nihil seperti biasa. Ha-ha-ha!

Ze, aku rindu segala tentangmu~

Tentang isi chating kita di pertengahan Febuari lalu, tentang segala canda dan jahilnya kamu. Terlebih kepada teks singkatmu yang megatakan pada kembarnya sang waktu; “13:13, ily”.

Ah… Ze, kauingat itu? Aku benar-benar rindu!!!

Ze, perlu kautahu… bertandangnya surat ini kepadamu memungkinkan kamu membuang waktumu yang super sibuk itu, nyatanya hanya sia-sia tanpa ada point makna dalam keseharianmu. Tapi seiring jemariku yang lentik mengetik, kukabarkan kepadamu sebuah permintaan usang atas segala apa yang tengah kulakukan sejauh ini, “MAAF”, untuk segala amarah yang kuluapkan bertubi-tubi kepadamu akhir-akhir ini. Untuk segala resahku yang  terkesan mengguruimu, juga pada sifat arogansiku yang mendewa demi cemburu (tanpa-kau-tahu). Maaf, Ze…. Aku yang lancang menyakitimu dengan sengaja, aku yang lancang mengirim sepenuhnya kata hina dengan bahasaku yang teramat sarkas. Aku yang salah selama ini datang kepadamu dengan permainan rasa, lalu mengakhirinya secara sepihak. Murkakah engkau, Ze? Hingga kita serasa menjadi beda, ataukah itu hanya perasaanku saja? Entah, Ze, yang saat ini kutahu, aku terlampau jatuh pada rasaku, membuatku menuntut dirimu untuk lebih intens terhadap texting kita belakangan ini. Aku selalu egois, ya, Ze? Harusnya aku tak berhak seperti itu, sebab faktanya aku bukan siapa-siapamu, sebab tak ada ikatan yang jelas untuk hubungan kita. Ah, Ze, demi apa pun, aku benci mengingat ini sendiri.

Kautahu, Ze? Pernah satu hari kupinta pada Tuhan-ku untuk memberiku lapangnya hati demi melepas seorang lelaki yang termat kusayangi, dan kupinta penggantinya untuk penawar rasa sakit di saat itu. Kemudian seiring waktu aku mengenalmu, yang pada akhirnya membuatku bersimpuh melupakan segala tentangnya lalu menggantikannya denganmu, dewa dalam setiap do’a di pejam malamku. Ze, kau sehebat itu! Mengusir banyaknya lelaki yang mendekatiku, membuatku mengacuhkan mereka hanya demi menunggumu. Tapi, Ze, kusadari… hanya aku di sini yang terlalu berharap lebih, serakah memintamu tanpa langsung untuk membalas rasaku, meskipun selama ini tidak benar-benar kutahu bagaimana rasamu terhadapku. Cintakah, Ze? Atau hiburmu saja demi tawaku? Apa pun itu terimakasih, Ze. Jika seperti biasa aku yang mengacuhkan mereka maka saat ini akulah yang telah jatuh padamu… akulah yang mengharapmu pada semua pesan siang malam yang kutunggu dengan lambannya responmu… Itukah yang di sebut ‘karma’, Ze? Kalau memang benar, aku ingin memberitahu kepada mereka, bahwa kau adalah karma terindah yang kudapatkan. Sekali lagi terimakasih, Ze, atas hadirmu.

Hujan di luar sudah mulai deras, kudengar riak dari rintiknya jatuh menggenangi tanah, bersama itu kuingat lagi sekilas literature yang menjadi caption Instagram milikmu:

“Seperti hujan angin tenggara, kangen ini datang begitu. Merontokkan kembang mangga, membuat panen berlalu. Hmm.. berapa anakmu sekarang? Apakah suamimu masih suka cemburu kepadaku?”

Ha-ha-ha. Aku suka, Ze! Gaya bahasamu yang cenderung humoris, seperti itu mengingatkan aku pada rimbunnya pohon mangga di depan pekarangan rumahku dulu di Kalimantan. Harum kembangnya didesaukan angin petang, lalu berbuah dengan suburnya untuk dipanen. Manis buahnya, semanis saat kau merevisi diksi itu menjadi literature yang lebih berkesan di hatiku:

“Seperti hujan angin tenggara, aku datang begitu. Meniup sela telinga, menyelinap antara jemari. Berhembus? Berarti tepat di dadamu, dadaku. Rasakan, berarti kita berpelukan.”

Aku jauh… sangat suka! Semoga bait itu benar untukku, ya, Ze. Ha-ha-ha.

Membahas tentangmu takkan ada habisnya di kepalaku, ribuan terka dan tanya membanjiri benakku setiap harinya… seperti yang kukatakan sebelumnya, kau hebat, Ze!

Dengan kelucuanmu itu, aku menjadi tersenyum bahkan cenderung gelak terbahak, seperti di saat kita berdebat mengurai segala amarahku, setengah hati kata-kata kapitalku memenuhi isi chat yang kamu terima, kamu tetap bisa membuat aku girang tertawa.

Berantem dalam suatu hubungan itu wajar. Yang gak wajar adalah ketika mau nyeduh kopi tapi malah ngambil mangkok -__-“.

Kamu menggemaskan, Ze! Saat kubaca postingan itu ponselku nyaris jatuh dari atas meja, demi menahan tawaku yang memukul-mukul meja saking gemasnya kepadamu. Sebal dengan sifat humormu, dalam keadaan kesal bisa-bisanya kau bercanda, Sayang. Ha-ha-ha.

Tapi kamu tak kalah manis, Ze, tetap saja kau unggul dalam urusan asmara, seperti postinganmu sehabis canda itu kauulah lagi kata yang sarat rasa,

“Kautahu di mana letaknya hati? Terakhir ada di dengkul. Kupakai berlutut di hadapanmu. Mungkin sudah jatuh di mana, kali, mungkin sudah di injak-injak Kokoh Roxy”.

Sekilas orang yang membacanya akan heran, Ze, namun tidak bagiku. Aku merasakan atmosfir ‘pilu’ atas cemburuku, meminta pergi pada marahnya hati. Tidak kusadari posisimu di hari itu yang memintaku lebih lama dalam hubungan ilusimu. Maafkan aku, Ze, menjatuhkan harga diri lelakimu demi tengkar yang tak berguna. Demi kalap amarahku, kubuat kau memohon untuk hubungan real kita.  Postingan itu kaubuat humoris bernada romantis. Hanya aku dan kamu yang paham, bukan? Bah, Ze, peluk aku!

Kelak aku akan sangat-sangat merindukan segala tentang kita, lebih dari caraku merinduimu saat kini. Sebelum pamitku mampir menyapa chat kita, kugunakan dua jarum pada putaran jam di pergelangan tanganku untuk menyampaikan segala rasaku lewat surat ini. Sesekali sesak di dadaku menggelanyut hampa mengulang segala memory kita di aplikasi maya. Benarkah, Ze, aku sekedar ilusimu? Yang saat kutanya kamu menjawab “Lu pacar gua”, atau isi chat di bulan Maret yang kupaksa kamu menjelaskan rasamu, kamu menjawab “Haahhh… Gua sayang elu”. Kapan lagi, Ze, kalimat itu kamu ulang? Aku suka, meski aku tahu kamu tidak pernah suka ketika kusuruh mengulang kata-katamu. Tapi tetap saja aku nakal memintanya.

Kusampirkan tubuh ini di petak kursi jati yang membuatku betah berlama-lama mendikte chat lama kita. Apa pun itu, thema malam ini masih sama seperti kemarin; AKU TENGAH MENIKMATI MANISNYA RINDU. Untukmu, Ze, aku tengadahkan hati ini.

There’s loving in your eyes, that pulls me closer! It’s so subtle, I’m in trouble but I’d love to be in trouble with you”, sepenggal lirik lagu itu berlangsung di playlist yang kudengarkan, kurapikan anak rambut yang mengahalau bias di sudut lensaku, kupejamkan sejenak meresapi rasa ini, membawaku keseribu kali mengenang wajahmu, matamu, bibirmu, genggammu, serta rambut tebalmu. Kau sungguh menjadi kafein dalam imajinasiku, berpendar indah dalam kilatan bayang. Rasa-rasanya ada aroma kita berdua yang mendekap dinginnya hujan di luar café ini. Ingin kupeluk dirimu nun di sana, Ze, biar sesekali kurengkuh bibir hitammu untuk kusesap dalam kecupan isakku. Lacurkah, Ze? Binalnya fantasiku akan hadirmu di sini, mencoba mengeratkan genggammu pada kepalan kosong di ruas jemariku. Ahh… Ze, kuseka basahnya pipi yang entah dari mana datangnya, perih yang mendominasi jiwaku akan jauhnya jarak kita menyelaraskan pecundangnya diriku pada kerdilnya cinta. Seperti biasa menjadi basa kurapal namamu di hatiku demi kiliran kenangan awal serta merta dua hari yang lalu isi chatmu “Ada yang perlu di bicarakan?” Ze, kenapa berbeda begitu, Sayang? Seolah-olah aku orang lain. Sesak, Ze, kau jelas tak tahu apa mauku, untuk saat ini ingin kuteriakkan pada semesta “AKU JATUH CINTA!”

Biar kamu tahu, Ze, bagaimana rapuhku mencoba sombong mengetuk pintu hatimu, bertamu sekejap tanpa berani masuk lebih dalam. Ketakutanku akan rindu yang mendera berderu-deru menyiksa rasaku. Aku sudah babak belur menyerah pasrah pada ke-patah-hatian ini, tanpa peka bagaimana balasan rasamu untukku.  Cukup kalah dengan rasa ini, setengah mati menahannya agar tidak berharap untuk berbalas, menikmati sendunya rasa cinta sendirian. Dan dengan lantang kusiarkan rasaku:

“CUKUP AKU YANG JATUH CINTA, KAMU JANGAN!!!”

Setelah dua jam kutaruhkan isi surat sampah ini, biar kuberitahu rahasia kecilku, sengaja kutulis surat ini setelah kepergianku mempersembahkan rasa jatuh cintaku di hadapan para mereka yang membaca, biar terasa sakral di iringi puluhan mata dari eja-nya mereka. Sudah lama tidak kubuat sebuah surat cinta selain surat alpa di bangku sekolah. Sudah lama harapku menulis secarik alenia demi untuk budaya zaman mendiang ayahku tentang sejarahnya seorang sahabat pena. Kini surat ini menjelma dengan ribuan abjad dan kalimat-kalimat tanpa makna, membuang waktumu secara sia-sia. Terimakasih, Ze, lewatmu kugenapi impi pada beberapa surat untukku yang ditulis mereka tanpa pernah niatku balas, hingga pada akhirnya kau yang teristimewa menjadikanku semena-mena menulis dengan kisaran tangis. Kau unggul dari mereka, Ze. Maaf, sepublik ini kuakui rasaku, aku tak mengharap balasan surat ini, hanya ingin kautahu bahwa selama ini aku selalu menunggumu. Kau dapat mengabaikannya jika tak suka, Ze.

Ze, aku suka nama awalmu. Serupa dengan nama mendiang ayahku, mungkin itu sebabnya kaupatut jua kuhormati dalam hati sebagai lelaki yang kukagumi.

Kuteguk habis cappucinno yang sisa setengah cangkir di meja café ini, kali ini tidak ada sekaleng radler yang menemani diksiku. Biar kukutip satu sajak rusakku untuk lebatnya hujan di luar sana..

“Aku menghalau mendung,

menjauhkannya dari kita yang terkulai limbung.

Sedetiknya sungging senyummu menjingga bangga.

Tetapi mengapa di mataku gerimisnya masih tersisa?”

Itu untuk hubungan problema kita, Ze, dari ilusi yang kaukata seperti waktu itu,

‘Ilusi akan tetap jadi ilusi”..

Kauingat kalimatku itu, Ze? Bersama paragraph ini kutepis lagi lirihnya air mataku.

Mengingat katamu di chat kita yang telah berdebu,

“Ketika daya usaha tak lagi bermakna, saat itulah kau menjadi perwujudan kalahku yang sempurna”.

Aahh.. Ze, Aku Mencintaimu.

Aku pamit membawa segala tabiat minusku. Jangan terlambat menyuap nasi, Sayang. Sebab sakitmu jua sakitku. Bugarlah dalam keseharianmu, segala yang terbaik untukmu kulangitkan.

Kuakhiri surat ini, Ze, dengan tidak mengurangi kepulan rinduku kepadamu. Izin ‘ku pergi dari semua ganggu selama ini kepadamu, dari segala murka di hatimu dan hatiku. Kupinta kau jangan bersedih, sebab tidak ada yang mengusap laramu di sana. Kita jauh, Sayang. Maka berikan aku senyuman buat akhiran surat ini.

Tabik, Ze, kau kusayang sampai ke dalam tulang.

I’m Yours,

HERA

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

1 Comment Surat #368 ZE, Si Penjual Senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*