Surat #325 Gumay (3)

Teruntuk: Gumay

“Yang namanya sayang dan cinta itu, nggak melulu harus diungkapkan lewat kata-kata. Ada yang jauh lebih memahami itu.”

Mungkin kalimat di atas mewakili lamunan absurd gue pagi itu, yang muncul secara tiba-tiba tentang lo. Gue inget pagi itu, saat teh tawar hangat gue, yang gue minum secara perlahan di atas balkon, gue habiskan dengan sejenak lamunan sambil memainkan asap tipisnya. Dan tiba-tiba..

“Ting-nong!”

HP gue pun berbunyi. Lagu “Setapak Sriwedari” – Maliq & D’ essential terhenti sejenak, lalu gue cek HP, eh, ternyata benar dugaan gue, itu notif dari lo! Ha-ha-ha. Seketika, saat asap tipis teh gue mulai memudar, bayangan senyum lo yang makin jelas muncul dalam otak gue. Bngst, ya. Wk-wk.

Lo harus tau, Ca, kalo itu adalah pagi pertama gue ge-er sama lo, setelah kita sekedar basa basi di obrolan sore atau malam, hanya untuk sekedar bercanda dengan sapaan “aa eneng” ?

Seperti yang udah gue katakan di kalimat paling atas, semesta pun, bila kuberi untuk lo, belum mampu lo pahami, apalagi aksara. Mungkin candaan atau malah kebegoan gue bisa bikin hati lo paham. Ha-ha-ha. Pagi itu awal gue bisa geer lagi sama cewek. Thanks sudah mulai bikin hati gue beku lagi.

Semakin hari, gue semakin nyaman sama lo, dan biarlah semua ini berjalan apa adanya. Untuk apa berkata, jika nyatanya saja, sorot mataku bisa kaubalas dengan senyummu? Itu sudah lebih dari cukup. Bahkan gue kaget saat lo nanggepin pertanyaan gue tentang “jarak”, yang seakan lo berkata “Jangan biarkan keadaan mengalahkan kita, kita yang harus mengalahkan dia.”

Jujur, bibir ini spontan tersenyum seakan lo ngomong di hadapan gue langsung. Terimakasih juga atas kepercayaan lo sama gue.

Oh iya, Ca, maaf kalo gue orangnya ga bisa romantis, gue cuma bisa jadi orang yang slalu cengengesan kalo ngobrol sama lo, cuma jadi orang yang selalu ada buat lo, dan yang bisa selalu motivasiin lo (semoga). Lo tau, kenapa gue ga mau tau tentang apa yang bakal terjadi dengan “kita” di masa depan? Buat gue, lebih baik nggak pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. Karena dengan begitu gue masih punya harapan tentang misteri hidup gue. Gue masih bebas berharap, akan jadi apa gue kelak. Dan gue juga bisa bebas memilih impian gue.

Entah dari tulang rusuk siapa lo diciptakan, entah apa yg sedang Tuhan gariskan buat kita, gue cuma pengen suatu hari ketika lo tua nanti, lo akan ingat ini ?

Okeee, mungkin sekian aja surat dari gue, Ca. Jadi, manis mana yang akan kita inginkan? Menjadi detik dan waktu di balik kaca, agar kita punya ruang untuk saling bercerita cerita tentang kita, misalnya ?

~Dan kita berpijak, lalu kau merasakan yang sama sepertiku.
Suara hati kita bergema.
Melantunkan nada-nada.
Melagu tanpa berkata.
Seperti syair tak beraksara~

Setapak Sriwedari

Tertanda: Vokalis Stinky

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*