Surat #209 Gil (3)

Teruntuk: Gil

Malam itu, pukul 02:00 pagi, kamu gak bisa berhenti bertanya, “Ini pertanyaan muncul waktu gw umur 13 tahun, apa tujuan Tuhan menciptakan dirinya sendiri? Apa Dia menciptakan dirinya hanya untuk menciptakan alam semesta ini beserta mahluk-mahluk untuk menyembah Dia? Emang ga ada kerjaan lain, ya? Tujuan Dia menciptakan diriNya adalah untuk disembah sama mahluk ciptaanNya, sedangkan Dia sendiri adalah ciptaan dari diriNya sendiri….”

Setelah selesai aku membaca chat dari kamu, badanku merinding, “Ini orang benar-benar gila. Kamu mengharapkan jawaban seperti apa dari aku? Pertanyaanmu saja membuatku merinding, bagaimana aku bisa jawab?”

Kataku dalam hati. Aku mencoba menggeser topik pembicaraan ke hal yang lebih menenangkan batin, “Gil, kamu tau ga, penguin itu burung? Penguin itu setia juga. Sampai mereka mati, pasangan mereka tetep satu. Waktu penguin bertelur, telurnya dijaga biar tetap hangat di antara kedua kaki penguin jantan, dan penguin betina mencari makan untuk si jantan dan anaknya nanti. Penguin betina dan jantan saling kerja sama untuk menjaga anaknya. Lucu, ya?”

Aku berharap pikirannya teralihkan oleh chat-ku. Jujur saja, aku tak ingin ketenangan batinku dirusak oleh stranger yang jelas gak aku kenal sama sekali. Ya, dia bilang aku pengecut yang tidak berani menentang semua kepercayaanku, bahkan untuk mempertanyakannya saja aku tidak berani. Peduli iblis, kalau aku mulai overthinking, emang kamu mau tanggung jawab?

Sebelum aku memutuskan untuk tidak membalas chat dari kamu, semua perhatianku tertuju kepada dirimu, Gil. Bahkan aku sempat berangan-angan kita hidup bersama. Ketika kamu membuka matamu dari tidur yang panjang, matamu bisa langsung menyantap senyumku, bibirmu berdansa di bibir lembutku sambil jemarimu mengelus halus rambutku dan pipiku, dan tubuhmu memeluk hangatnya tubuhku. Hehehe. Menjijikkan, ya? Ga apa, atuh, Gil, membayangkannya saja aku udah senang. Aku juga mulai nyaman dengan ucapan sebelum tidur darimu, “Nighty night and have a sweet lovely dreams, dear.”

Aku tahu kita tidak mungkin melanjutkan ini lebih dari chatting di Saya dan aku tak ingin terhisap lebih jauh ke dalam duniamu. Jadi, aku memutuskan untuk menghapus akun Sayaku.

Pertama kali kamu mengirimkan foto wajahmu, yang pertama kali aku perhatikan adalah matamu yang sayu. Ah, rasanya aku ingin mengecup mata sayumu. Bibirmu datar terbelenggu oleh wajah kakumu. Mungkin kalau aku mencium pipimu, kamu ga bisa merasakan kelembutan bibirku karena saking kakunya wajahmu. Dan rambut panjangmu yang bergelombang sebahu nyaris membuatku basah, kamu tipe aku banget. Mungkin kalau kamu senyum sedikiiiit aja, aku basah karenamu. Hehehe. Pikiranmu mungkin membuatku gila, tapi senyummu bisa membuatku tergila-gila. Sayangnya, mungkin aku gak akan pernah bisa melihat senyummu itu. Terakhir, aku sangat menyesal telah bertindak egois dengan menghapus akunku dan tidak chat kamu lagi. Aku hanya memperhatikan aktivitasmu di Saya, melihat komentarmu di posts yang paling kamu benci, dan curhatan kamu tentang Wilona, mantanmu yang paling kamu cintai. Aku ga tahu apa yang kamu rasakan dalam diri kamu, untuk membayangkannya saja aku tidak bisa, tapi aku yakin, kamu sangat amat terluka, dan aku ingin sekali menjadi obat yang bisa menyembuhkan setiap lukamu itu. Jika saja aku tidak seegois ini, aku ingin menyelamatkanmu dari kabut hitam yang mengekang jiwamu. Maaf, Gil, aku hanya takut keinginan untuk memilikimu mulai tumbuh dan membesar setiap harinya. Aku sayang kamu. Aku tahu ini aneh, tapi aku tahu, aku sayang kamu.

Tertanda: A Stranger

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*