Surat #175 Sang Pembawa Hujan

Teruntuk: Sang Pembawa Hujan

Hai, ‘Dari ujung dunia’ gue bales surat ini, haduuuh ujung dunia banget ya? Jauh euyyy. Gapapa jauh ya? Jarak mah ga jadi masalah, atuh, If you see my first comment or reaction to your letter, I’m joking if I don’t understand what you write for me.

Ha-ha-ha. But actually, yes I’m bad on english but not at all. Udahlah, gak mau make bahasa Inggris, bahasa kalbu aja biar hanya hati yang mengerti. He-he. Makasih udah kirim surat untuk gue, yang keaslian isi dalam surat itu masih dipertanyakan. Maksud gue, itu nyata atau hanya perangkap? 🙂

Huft.

Hai, kau, Si Pembawa Hujan, saya ingin bertanya, pengiriman surat ini, setelah kejadian yang menyebalkan itu, atau sesudahnya? Hai, kau, Si Pembawa Hujan, seharusnya kautahu, bahwa saya menyukai hujan dan membencinya walau tidak dalam satu waktu. Hujan terlalu banyak mengandung makna. Hujan itu menyejukan dan menenangkan. Iya, itu yang akan kita rasakan jika hujan datang, dan kita sedang di rumah, di perpustakaan, atau di tempat singgah lainnya. Tidak dalam perjalanan, tidak sedang terburu-buru. Namun, jika hujan datang di saat ingin pergi ke suatu acara, yang tentunya jika kita terkena hujan, semua hal yang sudah dipersiapkan akan berantakan. Jika hujan datang di saat kita sedang terburu-buru, pastinya hujan akan menghambat karena akan menciptakan kemacetan, dan genangan air, bahkan bisa saja hujan menciptakan banjir. Menghambat segala aktifitas yang sedang dilaksanakan.

Selain hujan, saya suka bakso. Saya suka membaca novel, saya suka berbicara. Ah masih banyak hal yang saya sukai. Selain hujan, saya membenci tetelan, saya membenci pengendara mobil/motor yang merampas hak pejalan kaki, saya benci keributan, pengkhianatan. Ah, masih banyak hal yang saya benci. Jika nanti Semesta memberikan izin untuk saya dan kamu bertemu (lagi), atau mungkin jika sewaktu-waktu kita kembali menyapa dan mengirim pesan singkat (lagi), mungkin akan saya ceritakan, tidak sekaligus memang. Tapi, pasti saya akan cerita jika saya ingin.

Hai, kau, Si Pembawa Hujan, ini semua tentang waktu. Terima kasih jika kamu memiliki perasaan kepada saya (Aduh jadi pede ha-ha-ha) tapi semua tidak akan semudah itu, bukan? Ya, tak apalah, jika saya ingin melihat seserius apa engkau?

Hai, kau, Si Pembawa Hujan, saya ingin memberitahu kamu sesuatu, jika ada lomba menjatuhkan hati tercepat, mungkin saya adalah pemenangnya. Karena, dahulu, dahulu sekali saya sangat mudah untuk didapat. Sehingga saya pun sangat mudah untuk dilepaskan 🙂

Dahulu, hanya bermodal kata-kata manis, dan janji seribu janji. Saya sudah memberikan hati saya. Sehingga, mungkin sekarang hati saya sudah benar-benar rapuh.

Namun ingat, itu dahulu, sebelum saya sekuat sekarang. Itu dulu, sebelum saya belajar.

Hai, kau, Si Pembawa Hujan, kamu tahu? Saat kejadian menyebalkan itu saya kembali mengirim pesan singkat (lagi) untuk memperbaiki keadaan atau setidaknya saya mengakui bahwa saya salah walaupun tidak sepenuhnya salah saya. Dan, ternyata respon Anda seperti orang yang tidak merasa bersalah sama sekali, haha semakin kesal saya. Saya ngedumel sepanjang waktu. Kesal melihat sikap dan sifat Anda yang sangat kekanak-kanakan. Dan tiba-tiba, malam harinya, hujan datang disertai dengan petir yang kencang 🙂

Alam saja merasakannya. Ha-ha-ha. Saya sangat menghargai Anda sudah memberanikan diri untuk mengirim surat kepada saya. Tapi Anda tak perlu repot untuk membalas surat ini lagi. Cukup, chat saya, kita mulai lagi semuanya dengan pertemanan.

PS: Maaf, ya, kalo kepanjangan dan gue ngerasa sok kepedean, lebay dan sebagainya Hahahaha.

Tertanda: Saya yang Tinggal di Ujung Dunia

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*