Surat #49 Kamu, yang Pernah Mengisi Ruang Kosong (A)

Teruntuk: Kamu yang Pernah Mengisi Ruang Kosong (A)

Hai, Perempuanku; ‘10.2‘, masih ingatkah dirimu kepada aku yang pernah hadir dalam benakmu?

Mengenalmu mungkin sebuah Anugrah Tuhan, yang diberikan kepadaku.

Teruntuk hari ini, aku mengingat akan hal yang pernah kita jalani dari sebuah hubungan. Andai engkau tahu, dari hanya sebuah kata yang tertulis secara maya sampai akhirnya menjadi nyata.

Dan, teruntuk hari ini, aku menuliskan sebuah surat yang tertuju untuk dirimu, sebuah surat yang kurangkum untuk menceritakan sosok dirimu yang kuanggap peri kecil yang hadir dalam hidupku. Sungguh aku rindu pada dirimu….

“Perihal perkenalan kita yang terbilang unik, berawal dari sebuah kolom komentar yang kautuliskan, kita yang bertegur sapa, bertukar cerita, sampai akhirnya kita memadu rasa.”

Hal yang paling aku suka dari sosokmu; kamu yang selalu panggil aku dengan ucapan `Mr.Galak’ 🙂 kamu yang mempunyai sifat moody yang membuatku rindu untuk mendengarkan keluh kesahmu mengahadapi aku yang memang super cuek, dan kamu yang selalu bilang aku gak peka. Untuk saat ini aku masih ingin tahu kenapa kamu selalu panggil aku dengan sebutan `Mr.Galak’, yang, padahal, setiap hari kamu selalu marah ketika sehari saja aku tak memberi kabar, sampai akhirnya aku pun ikut memanggilmu dengan sebutan ‘Mrs. Ngambek’ 🙂

Entah hal apa yang membuat kita jauh, bahkan berbeda?

Aku tahu, Tuhan tak pernah kehabisan cara untuk menyatukan yang berjodoh, dan memisahkan yang tak berjodoh. Seperti senja yang membawa kisahnya masing- masing sementara aku masih saja meratapi perihal kemarin, perihal yang tak pernah mampu kujemput dan kubawa pulang. Biarlah aku menjadi bayangmu yang selalu di belakangmu, menemani harimu tanpa kau tunjukan siapa aku.

Mungkin mendoakanmu adalah cara terbaik untuk mencintai, dan aku ucapkan terima kasih, telah membentuk diriku menjadi yang lebih baik, dengan segala debat yang pernah kita lakukan dan selalu ada air ketika ada api. Kuharap, kelak, jika kita dipertemukan di lain waktu, kita bisa mengubah, atau, berpikir tentang apa yang membuat kita jauh. Keegoisankah? Atau memang pola pikir yang selalu berbeda, bahkan prinsip? Tapi itu bukan sebuah alasan mengapa kita jauh. Kuyakin, untuk saat ini, kamu pun masih berharap, tapi entah apakah gengsi atau arogansi yang membuat kita malu untuk mengatakannya, padahal kata yang terucap walau sesederhana apa pun, akan berubah menjadi sebuah keajaiban, tapi kita tak pernah menyadari hal itu.

Perihal perpisahan itu, aku hanya bisa meratapi dan menitipkan doa yang semoga di topang aminmu. Semoga sukses untuk semua apa yang telah kaucitacitakan. Namun, sulit kuakui, untuk melepasmu setelah apa yang telah kita lewati. Tapi aku tidak bisa menahan bahkan memaksa kamu untuk tinggal karena bagian tersulit dari merelakan adalah berdamai dengan kenyataan. Padahal, luka takkan pernah bisa terlepas bila kau masih begitu erat menggenggamnya.

Kamu — aku dua hal yang berbeda yang menjadi satu hati….

Tertanda: Richeese Nabati ~ Pengagum Huruf A

NOTE: Terima kasih, Uncle, udah mengadakan event ini, semoga yang “Teruntuk” membaca surat ini dan masih main SayaApp, dan tahu, surat ini tertuju untuknya 🙂

Kamsiyah, kalau pesannya di-repost.

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*