Surat #48 Boba Fett

Teruntuk: Boba Fett

Assalamualaikum, Cinta, apa kabar?

Apa kabar dengan hati yang lama tak pernah kujumpa?

Apa kabar dengan hati yang masih dalam perjuangannya demi menggapai ridho-Nya?

Apa kabar dengan setia dan kejujuran?

Cinta,

andai saja aku bisa mengungkap semua kata dan rasa dalam hati yang aku punya ini,

maka seribu lembar kertas pun tak akan cukup untukku menuangkannya.

Banyak sekali cinta, banyak yang ingin aku ungkap secara langsung di hadapmu nanti.

Andai kautahu, aku hambar tanpa pengisi kasih dan pedulimu kepadaku, andai saja kautahu apa yang aku rasakan ini untukmu….

Cinta bukan yang bernama keegoisan rasa,

bukan yang mengucap “bagaimana?” namun “ aku mengerti…”

bukan “ kamu di mana?” tapi “aku di sini….”

bukan “ aku ingin kamu seperti ini….” akan tetapi “ aku mencintaimu dengan apa adanya dirimu…”

Sepinya diriku tanpa kau di sini, hampanya hatiku karena kutahu, dengan, nyata kau tak berada di sampingku,

seringnya kau patahkan aku, namun aku bukan seseorang yang mudah menyerah….

Aku bertahan, karena ada kejujuranku… untuk mengasihimu….

Luka itu memang sakit, Cinta, akan tetapi lebih sakit lagi jika aku membohongi diri ini.

Mungkin aku bisa menggunakan dusta putihku, namun, selama aku masih bisa menjaga kebaikan dalam jujurku, sungguh….

Demi Dia, yang Maha Menghargai, aku akan berjalan di sini tanpa ada paksa dari siapa pun, dan yang utuh adalah hanya ada nurani dan hati yang suci.

Ketika luka — luka telah mengering,

selama itu pula aku haus untuk merindukanmu,

pun selama luka itu masih basah dan masih pekat terasa ngilu di ulu hatiku.

Cinta,

inginnya aku bersamamu, menjaga hatimu, mendampingimu ketika resah dan gundah melandamu.

Ahh… Cinta, akankah kautahu begitu dalamnya kasihku?

Sehingga semua luka dan kecewa itu tak akan mampu mengubahnya, sekali pun pernah kau memintanya untuk aku melakukannya.

Maafkan, Cinta, maafkan aku, karena aku terlalu jujur pada perasaanku.

Dan semua, semua…. masih tetap utuh pada tempatnya.

Rasa yang bercampur baur, ada duka, ada kecewa, namun ada pula rasa percaya di antara sejuta ragu, ada setitik cahya di antara gelapnya cakrawala.

Ketika semua terhempas karena sia-sia, aku akan mencoba pelajari kesedihan ini, kesakitan ini, dan kuanggap ini sebagai hadiah “besar”-Nya.

Derita ini adalah anugerah dan suatu kehormatan tersendiri bagiku di atasnya dan dibawah kekuasaan-Nya.

Jiwa tak akan pernah mengenal arti tegar jika ia hanya datar merasakan perjalanan hidupnya.

Hati tak akan pernah mengerti rasa sakit, jika ia selalu bahagia. Maha Suci Tuhan Semesta Alam, atas segala rangakaian hidup yang sempurna ini.

Dan, Cinta,

kau membuatku banyak belajar dalam sakitnya aku ketika aku terhujam mendekam dalam tebing bebatuan yang tajam.

Kau membuatku menjadi orang “ besar” dalam rasa kesyukuranku kepada-Nya.

Terima kasih, Cinta, kau membuat aku menjadi jiwa yang sabar atas segala penantian dan pengertian.

Secuil apa pun itu, harapan adalah tetap menjadi harapan.

Di mana ia juga bisa tumbuh dari rasa kecewa, dari rasa luka.

Maka biarkanlah ia tumbuh menjadi dewasa dalam matangnya pemahaman.

Mungkin aku akan berdiri di atas rangkaian jerami yang selalu ada di depanku ketika aku berjalan,

dan tiada lain adalah rasa sabar ketika aku harus membersihkannya,

tiada lain dari rasa ikhlas ketika aku merasa lelah untuk merapikannya agar ia tak melukaiku.

Namun ketika goresan luka itu ada,

tiada lain pula rasa bertahan dan pengupayaan untukku mengobatinya.

Dan tiada lain dengan rasa tulus aku melakukannya.

Begitu pula denganmu, Cinta,

jika pun harus ada air mata, biarlah ia menjadi teman sedihku untuk menyayangimu….

Jika ada rasa sakit mendera, biarkanlah ia menjadi teman setiaku dalam bertahan atas segala kejujuranku padamu….

Sungguh, aku bersyukur,

karena aku mengenalmu, Cinta,

sekali pun aku tak pernah utuh memilikimu,

sekali pun utuh yang kaupunya tak hanya untukku….

Jangan tanyakan tentang kesedihan yang kau pun tahu cinta,

jangan bertanya tentang rasa sakitku, bila kau pun merasakannya…

aku memang manusia biasa, yang tak sempurna, dan kadang salah…

namun rasa kasihku telah mengalahkan rasa sakitku,rasa asihku mengalahkan egoku… dan sayangku….,

telah mampu mengobati luka-luka itu.

Cinta,

kapan aku bisa menyentuhmu?

Di mana aku bisa menemui hangatnya jemarimu mengusap semua peluhku?

Atau sebaliknya, aku yang mengusap peluh di wajahmu….

Dan aku yang akan membelai lembut bahumu ketika kau goyah di jalan perjuanganmu bersamaku, agar kautahu betapa pedulinya aku terhadapmu….

Cinta,

dalam sujudku kepada-Nya kutitipkan doa dan pintaku…

semoga kau senantiasa dalam penjagaan-Nya ketika penjagaanku tak sampai padamu,

semoga kau selalu dikasihi dan disayangi-Nya ketika kasih dan sayangku tak mampu melampaui di mana kau berada saat ini.

Kupinta kepada-Nya, agar Cinta-Nya selalu ada untukmu, ketika aku tak sanggup lagi mencintai.

Kutegarkan segala kerapuhan, kan kuindahkan segala kesedihan,

bahagiamu adalah doa dan harapku.

Senyumu, menjadi suatu cita-cita di mana aku bisa merasakannya itu tulus hanya untuku.

Semoga ‘kan selalu baik adanya , meskipun jalan ini tak sempurna.

Ucap terakhirku, kuharap ‘kan terbaca jelas di mata dan hatimu.

Aku mengerti,

aku di sini, dan aku mencintaimu apa pun adanya kau dengan segala kurangmu.

Dan biarlah,

biarkanlah tulusku yang mencintaimu.

Tertanda: Anon

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*