Surat #46 Lo, yang Nulis Surat buat Amer

Teruntuk: Yang Nulis Surat buat Amer 

(Ini surat balasan)

Gue nggak merhatiin. Gue nggak merhatiin. Gue nggak merhatiin. Ah, semoga dengan 3 kali gue ketik itu, lo bakal sadar betapa gue sungguh-sungguh merhatiin karena lo nggak nyebut siapa lo. How dare you, but thanks anyway mwah.

“Aku sering heran, kenapa aku bisa memperhatikan badboy kampungan seperti kamu.”

Itu kata lo, kurang lebih. Gue aja nggak tahu bagian mana dari gue yang attractive. Iya, badboy atau apalah. Gue cuma penikmat minuman lokal jamu kayak anggur merah, intisari, dan minuman lokal yang dibuat di Indonesia. Ya, kalo soal ijo ganja, gue jarang ngisep. Kalo mau, ya, gue tinggal ke temen gue. Kalo lo anggap gue minum dan nge-ijo buat dapetin “high”, gue nggak segoblok itu. Gue mau kembangin paham, bahwa kreativitas, intuisi, dialetik segala macam tete bengeknya, adalah dari alkohol, dan ijo yang gue konsumsi.

“Tapi, yang jelas, aku tertarik padamu. Sering kali aku melihat orang menghinamu, tapi ketahuilah, aku akan siap dengan ludahku yang sudah kusiapkan untuk kulemparkan ke wajah mereka yang menghina dan merendahkanmu.” 

Itu kata lo, lagi, kurang lebih. Gini, gini, Mbak yang Baik Hati Bikinin Gue Surat, ada satu hal yang harus lo tahu, ya: sebagai punkers, gue bertanggung jawab atas semua konten, entah komen ataupun chat yang gue kirim. Gue nggak peduli dengan reputasi fana di aplikasi. Gue lebih baik dibenci sebagai diri gue sendiri daripada harus make topeng berbuat baik ke orang-orang. Gue ga mau make topeng biar keliatan ‘Wah, ini orang baik blablabla.’ Kata-kata ga lebih dari pendongkrak nilai plus persepsi manusia di mata manusia lain. Dunia ini kosong, Mbak, mortalitas degradasi etika moral budaya chaos culture merajalela. But, thanks anyway atensi dari lo, ya, gue apresiasi

“Dear Amer. Aku mengagumimu. Dari aku, pemerhati setiamu.” 

Itu kata lo, lagi-lagi, gue kutip. Tengkyu tapi gue juga butuh tahu siapa lo sebenernya, biar gue bisa ngucapin terima kasih gue. Kasihan Si Oom cuma jadi perantara gue ama lo doang, sementara banyak surat yang masuk ke inbox Si Oom. Jadi, kenapa lo ga mulai pc gue pake topik yang agak menarik soal degradasi budaya dan apatisme orang-orang modern? Gue tunggu, kok, gue cuma pengen bilang terima kasih ke lo.

Tertanda: Amer, yang Nggak Tahu Siapa Lo, Mbak-Mbak Penulis Surat

“Ps: Mer, kurang-kurangin main sama Jean, ya. Aku cemburu.” 

(Gue kutip buat terakhir kalinya)

Ps: Main di dunia digital ga masalah, kan? Lagipula, Jean adalah pendengar yang baik buat gue. Dia bersedia untuk mengajarin gue apa itu fallacy, nggak usah cemburu. Emak gue udah dari dulu cemburu kalo gue ga ngasih kabar balik habis kuliah atau kagak. Kakak gue juga cemburu punya adek yang ga pernah ngomong ke dia selama satu dekade. Oke? Ya, semoga lo paham.

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*