Surat #27 Panutanku

Teruntuk: Panutanku

Di kala gelap, fajar masih tertidur pulas, aku masih ingat, tengah malam kita bertemu.

Menuaikan cerita penuh tawa hingga sedih. Oh, iya? Itu pertemuan pertama kita.

Menghampiri salah satu tempat di mana pertama kalinya kita bertatap muka. Mengitari beberapa kota di jakarta. Lalu, menenangkan diri di sudut ruko pinggir jalan. Bertukar cerita, pikiran, kenangan, pengalaman di bawah langit gelap dengan angin malam yang nan sejuk. Mendengarkan pengalaman masa lalumu hingga membukakan mataku.

Ingin rasanya meneteskan air mata saat mendengarkan kisahmu, tapi malu pun kian menepis. Kau letakkan kepalaku di bahumu untuk pertama kalinya. Ya, rasanya seperti air menggenang, nan tenang. Kau kecup keningku sebagai tanda semangat. Hingga kecupan pertama mendarat di bibir mungil nan lembut yang kaupunya. Bukan sebuah fana tapi inilah fakta yang tak dapat dipungkiri. Aku rindu kecupan pertama itu. Bodoh karena merasakan kecupan dengan orang lain? Ya, aku bodoh tapi dia bukan sekedar orang lain yang kukenal, melainkan panutanku.

Jiwaku tenggelam dalam hangatnya dekap kasih sayang darimu. Aku rindu kalimat “Aku sayang kamu” saat pertemuan selanjutnya. Aku rindu pelukan hangatmu di saat aku meluapkan semua kesedihanku di tengah malam itu.

“Simpan semua kesedihan lo. Suatu saat, ketika lo jadi orang, lo ceritain semua kesedihan yang lo lalui sebagai kisah hidup lo selama ini”

“Coba, ya, umur kita ga berbeda jauh. Mungkin kita udah pacaran. Yaudah nggak pa-pa, biar kita nggak ada putus-putusnya. Janji, ya, sama gue untuk keep longlasting?”

Ah, Bajingan! Dengan 2 kalimat itu! Persetan dengan perjanjian yang kaubuat. Kini aku? Aku remuk di antara janji-janji manis itu.

Kehadiranmu membawakan angin yang tak memberi dingin, syairmu yang menyejukan, membuatku pulas dalam senyuman. Kau bagaikan hujan dan aku hanyalah bumi yang gersang, kau sirami aku dengan rintik-rintik kebahagiaan. Maaf, kemunafikkan diriku yang telah menanamkan perasaanku untuk dirimu di dalam hatiku. Dan maaf, rindu ada karena aku mengenalmu.

Mengenalmu adalah suatu anugrah, dan mencintaimu adalah suatu kebahagiaan bagi diriku. Aku mengenalmu bukan untuk mengenangmu. Percayalah, tak ada satu pun yang mempengaruhi perasaanku kepadamu. Dari jauh aku mendoakanmu, doa yang bukan sekedar kata-kata, melainkan sesuatu yang air mata pun tidak mampu menerjemahkannya. Aku menjadi seperti rumput yang merindukan hujan di padang pasir, bulan yang merindukan matahari, hitam yang berharap untuk bersatu dengan putih. Mungkin aku lahir untuk mencintaimu, dan kau terlahir untuk aku cintai.

Aku melihat bintang, lalu mengingatmu. Di dadaku ada bintang berkedip, itu kamu.

Tertanda: Jagoanmu, Acatia

~

Untuk user SayaApp atau Hoomn yang ingin ikutan menulis surat juga di event #30HariSayaAppMenulisSurat, kalian bisa baca ketentuannya di bawah ini, ya! Tabik!

#30HariSayaAppMenulisSurat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*